21 July 2020

Tidak Perlu Takut Memilih Jalan yang Berbeda Jika Tujuannya Sama

Sering kali kita mengikuti langkah orang lain untuk kita terapkan di hidup kita. Apalagi jika langkah orang lain tersebut terlihat mulus, dan sukses di mata kita. Padahal belum tentu langkah orang lain itu bisa cocok dengan diri kita.

Itulah mengapa kita tidak perlu takut untuk berbelok dan mengambil jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Yang penting tujuannya sama.

Memilih Jalan Berbeda
Foto oleh Javon Swaby dari Pexels

Tapi sayangnya tidak banyak orang yang berani melakukan itu, dengan dalih untuk mencari aman. Sehingga hidup kita tak jarang hanya mengikuti apa yang orang lain lakukan. Kita tidak bisa punya prinsip dan jalan yang sesuai dengan keadaan diri kita sendiri.

Kalau tujuannya sama, kamu bisa kok belok kiri atau kanan, melewati jalan yang tidak banyak orang lain pilih. Ya meskipun mungkin akan banyak orang yang mengingatkanmu jangan lewat situ, tapi jalan itu tujuannya sama dan tentunya membuat kamu nyaman melewatinya.

Begitulah yang terjadi hingga saat ini, banyak orang yang masih banyak sekedar mengikuti bekas tapak orang lain. Padahal jalan itu tidak sesuai dengan kondisi diri dan 'kendaraan' (baca: potensi diri) kita.

Memang tidak mudah untuk memilih jalan yang berbeda, karena risikonya besar. Misalnya ketika di tengah jalan tiba-tiba kita mengalami masalah, maka sulit untuk cari pertolongan karena yang melewati jalan itu sedikit bahkan tidak ada.

Untuk itu sebelum memilih jalan yang berbeda perlu sadar dulu sama kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Kalau hanya asal pilih jalan yang berbeda tanpa dibekali kesadaran akan hal itu, mending kamu tetap ikuti jalan yang lurus serta mengikuti arus yang umum dilakukan orang.

Melawan arus dan memilih jalan yang berbeda itu banyak tantangannya, kalau bekal tak ada bisa-bisa sesat entah kemana.

Melawan Arus

Saya sendiri termasuk orang yang tidak mau selalu mengikuti jalan yang umum dilewati orang. Saya ingin menciptakan jalan sendiri, yang sesuai dengan kondisi, kelebihan kekurangan diri dan tentunya membuat saya nyaman melakukannya. Terserah orang lain mau mengatakan apa, yang penting saya melakukannya dengan nyaman dan penuh tanggung jawab.

Saya memiliki pilihan yang berbeda dengan kebanyakan orang, salah satu contohnya ketika saya kuliah. Tidak banyak yang tahu kalau saya waktu itu tidak mengambil Tugas Akhir (Saya D3-TI), akhirnya saya pun tidak punya ijazah atau gelar.

Banyak orang akan mengatakan 'eman', atau sayang kok tidak sekalian diselesaikan, dll. Tapi ya saya sendiri tidak masalah dengan keputusan itu, malah membuat saya nyaman.

Saya pun mengambil keputusan itu bukan asal memutuskan, tapi ya memang sudah punya banyak alasan kuat dan saya yakin dengan keputusan itu. Salah satu alasannya karena saya ketika setelah kuliah ingin memiliki pekerjaan yang mandiri, yang bisa dikelola sendiri, tanpa ada tekanan dari orang lain. Nah karena saya sudah punya keinginan seperti itu, bagi saya ijazah atau gelar tidak penting bagi saya. Ingat, ini bagi saya dan untuk kodidor jurusan saya ya. Saya tidak mengeneralisir kalau ijazah tidak penting. Please open minded...

Keinginan saya itu pun juga karena saya sudah mengetahui potensi diri dan kelebihan kekurangan saya. Saya orangnya memang tidak cocok jika bekerja di sebuah kantor dimana saya menjadi suruhan orang lain. Saya juga tidak bisa bekerja di lingkungan kerja yang dibatasi oleh waktu.

Saya ini termasuk orang yang kalau kerja itu dibidang kreatif. Yang mana harus bisa kerja bebas dalam ruang dan waktu. Pembatasan ruang dan waktu hanya akan mengisolasi kreativitas diri saya dan tidak bisa bekerja secara optimal.

Saya pun dulu juga pernah bekerja kantor, dan pada akhirnya tidak bisa bertahan lama. Saya pun juga merasa tidak bisa optimal.

Itu salah satu alasannya dan contoh saja, masih banyak alasan atas pilihan saya itu. Kalau saya sih orangnya tidak suka ribet, kalau ada jalan pintas yang bisa dilakukan, mengapa harus lewat jalan umum yang melelahkan.

Tujuannya kan sama, saya sih kuliah tujuannya memang ingin benar-benar cari ilmunya ya (soft skill & hard skill), kemudian outputnya ya punya pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Itukan tujuannya semua orang yang kuliah.

Tapi intinya kita bisa-bisa saja kok mengambil jalan berbeda yang tidak umum diambil orang. Perkara salah atau tidak itu biarkan orang lain yang menilai, yang penting kitanya yakin dan tanggung jawab dengan pilihan itu. Biarkan waktu yang menjawab.

Bentuk keyakinan dan tanggung jawab itu harus didukung oleh itu tadi, (1) Sadar akan potensi diri, (2) Punya tujuan yang jelas, (3) Punya bekal yang ekstra untuk menjalankan pilihan itu.

Masih banyak pilihan-pilihan dalam hidup ini yang bisa kita pilih dengan jalan yang berbeda. Hanya kita berani atau tidak.

Kadang itu kita terjebak oleh pikiran-pikiran kita sendiri. Mengapa? Ya karena kita terlalu sering melihat hidup orang lain. Kita melihat kehidupan orang lain kemudian membandingkannya dengan hidup kita. Kemudian muncul pikiran ingin hidup seperti dia, lalu memilih pilihan yang sama dengan orang tersebut.

Akhirnya kita tidak bisa menerima diri kita secara utuh, hidup kita pun banyak disetir orang lain, secara tidak sadar.

Jadi, tidak perlu takut untuk memilih jalan yang berbeda. :) Be yourself, do it your way

Ambil positifnya. :)



Matur suwun,
Virmansyah


0 comments:

Post a Comment

Follow This Blog!