15 March 2019

Saya Nggak Mau Nikah...

Huft...tarik nafas dulu. Sekali-kali nulis di luar dunia blog, biar refresh juga, masa selalu bahas blog. Sesuai dengan judulnya, tulisan kali ini saya ingin sedikit 'curhat' soal dunia pe-rabi-an. :D Sebenarnya agak males sih nulis soal ini di blog (males kok malah ditulis, piye to vir..vir...tuman!), tapi ya tak apalah, semoga ini nanti ada faedahnya. Ambil sisi positifnya, yang unfaedah dibuang aja.

Bicara soal nikah, di umur saya yang sekarang ini sebenarnya masih wajar jika belum menikah. Btw, saya anak 90'an. Hanya saja, yang jadi masalah sekarang ini adalah banyak anak-anak yang umurnya di bawah saya sudah banyak yang menikah. Menurut saya ini gaya hidup baru, Nikah Muda.

Dampaknya adalah ke orang-orang seumuran saya yang belum menikah. Sudah pasti akan banyak mendapatkan pertanyaan classic, "Kapan Nikah? Itu Si Fulan aja udah nikah!"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini gampang-gampang susah untuk dijawab. Apalagi yang nanya mamah-mamah muda yang anaknya baru satu tapi udah gede. Ingin rasanya saya menanyakan balik ke orang tersebut, "Kapan punya anak lagi? Itu Dek Fulan udah minta adek lagi"

Tapi apa daya, saya nggak tega buat nanya-nanya gitu ke orang, karena ya pasti orang yang ditanya seperti itu (masalah pribadi) pasti nggak bakal nyaman. Akhirnya saya pun cuma senyam senyum saja kalau ditanya kek gitu, atau paling nggak tak jawab, bulan depan. Karena kalau tak jawab bulan kemarin, itu namanya HOAX!

Begini guys, nikah itu kan bukan kayak berak, yang mana kalau terasa mules langsung ke WC buat menuntaskan hajat. Kalau nikah cuma karena kebelet, terus langsung ke KUA buat bikin hajat, ya berabe ke depannye.

Saya Nggak Mau Nikah...

Saya nggak mau nikah kalau cuma kebelet

Siapa sih yang nggak pengen nikah? Semua orang pasti pengen, termasuk orang yang single sampai tua. Mereka itu sejatinya pengen menikah, hanya saja mereka pasti memiliki alasan sendiri mengapa belum nikah.

Kebelet di sini saya artikan juga sebagai nafsu. Jujur kalau cuma nuruti nafsu, mungkin saya sudah menikah kemarin-kemarin.

Tapi saya nggak mau kalau nikah cuma gara-gara nuruti nafsu.

Saya nggak mau nikah kalau ada tekanan dari orang lain

Banyaknya orang yang semakin bertanya dan menyuruh segera menikah, lantas menikah hanya karena ingin menuruti keinginan orang lain dan supaya nggak ditanya-tanyain lagi, itu adalah tindak bodoh.

Karena menikah itu adalah tentang diri sendiri dan orang yang akan kita nikahi, bukan karena orang lain. Kalau hanya menuruti atau karena tekanan dari orang lain, saya tidak yakin kalau nantinya bakal jadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah.

Saya nggak mau nikah kalau hanya masalah umur

"Wah umurku udah segini, nikah ah." Saya nggak mau seperti itu. Saya nggak mau nikah dengan alasan umur. Bagi saya, umur itu bukan patokan kapan seseorang harus menikah. Tapi ya orang-orang selalu ada yang bilang "Umur mu saiki wes semono, mbok gek rabi kono"

Intinya saya nggak mau umur jadi tolok ukur kapan nikah.

Lha terus sampeyan pengen nikah kapan?

Woo lha, paijo, takok maneh. Intinya saya nggak mau nikah karena hanya beralasan masalah duniawi saja. Tiga poin di atas beberapa masalah duniawi. Saya nggak mau yang seperti itu.

Karena bagi saya, menikah itu adalah proses hidup yang sangat penting dan sakral. Dan ini adalah bagian dari menyempurnakan ibadah.

"Lha wes ngerti yen ibadah kok gek rabi-rabi?"

Woo lha paijo, takok maneh.

Justru karena bentuk dari ibadah, maka saya perlu mempersiapkannya dengan matang. Bagi saya persiapan bukan soal materi, maaf, kadang ada yang belum menikah karena ingin mengumpulkan materi dulu. Kalau saya masalah materi duniawi bisa dicari, asal si fulana bisa mau diajak bersama-sama membangun bersama. Bersama-sama membangun bersama, hmm, piye iki maksude, yo wes pokoke ngono.

Saya pernah mendengar wejangan seorang Ustadz, bahwa ketika Ijab Qabul diikrarkan, sing bunyine ngene ki lho "Saya terima nikahnya si fulana binti fulan dengan mas kawin.....bla bla bla...", maka ketika sudah banyak yang bilang sah-sah-sah, tanggung jawab wanita yang kita nikahi tidak lagi ke ayahnya, tetapi ke kita para suami.

Makna dari Ijab Qabul sendiri sangat dalam menurut saya, begini...

"Maka aku tanggung dosa-dosanya si fulana dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yang telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan si fulana, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku".

Itu maknanya. Jadi bukan sekadar si fulana sah jadi istri, bukan seperti itu saja. Ada makna yang dalam yang memang perlu dipahami oleh setiap lelaki yang ingin menikah. Tanggung jawabnya bukan soal hal duniawi, tetapi juga akhirat. Maka dari itu memiliki calon istri juga tidak bisa sembarangan.

Contoh tanggung jawab akhiratnya seperti ini, misalnya istri tidak sholat (sedang tidak berhalangan), maka suami akan dimintai pertanggungjawabannya. Tapi jika suami tidak sholat, maka istri tidak dimintai pertanggung jawaban. Perihal ini tolong diluruskan kalau salah, tapi setahu saya seperti itu. CMIIW.

Jadi saya juga harus benar-benar siap dan benar-benar memiliki bekal untuk membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Nah, makna SAMAWA yang kerap diucapkan orang ketika ada yang menikah ini pun juga dalam. Ini harapan yang benar-benar harus butuh perjuangan untuk bisa membuat keluarga yang SAMAWA.

Jadi saya ingin menikah itu bisa mengubah saya dan pasangan nanti untuk jadi lebih baik, lebih dekat dengan Sang Pencipta supaya bisa sama-sama menuju Jannah-Nya. ^^

Siapa yang nggak pengen bareng-bareng terus sama pasangannya sampai nanti di akhirat, di surga-Nya. ^^

Intinya adalah persiapan itu perlu dimulai dari diri sendiri dulu, memperbaiki diri, memantaskan diri. Ya meskipun saya nggak bakal akan menjadi sempurna, minimal niat itu sudah ada. Sehingga nanti bisa sama-sama saling menyempurnakan bersama pasangan.

"Ya udah, nikah sekarang aja, ntar biar sama-sama bisa menyempurnakan"

Hadeh, paijo, kamu tuman! Riwil.

Doain saja ya semoga bisa segera mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik itu bukan soal baik dari sisi fisik atau yang bagaimana, tetapi yang bisa saling menerima dan melengkapi.

Usaha pasti ada, yang terpenting adalah usaha dari diri sendiri dan doa. Memantaskan diri itu adalah bagian dari usaha, dan doa itu yang utama. Karena bagi saya yang bisa menyentil hati seseorang itu ya hanya Dia, Sang Pencipta. Saya lebih suka meminta kepada-Nya buat menyentil hatinya, daripada saya menyentil hatinya secara langsung.

Karena kalau nanti perasaan yang ada di hati itu tumbuh karena-Nya, pasti tidak akan ada habisnya rasa bahagianya. Meskipun nanti saat berkeluarga ada masalah, langsung dikembalikan kepada-Nya.

Sudahlah seperti itu intinya inti, core of the corenya.

Kesimpulannya, silakan disimpulkan sendiri. Semoga yang baca ini khususnya rekan-rekan singlewan singlewati, bisa mendapatkan faedah dari ini. Maap..maap banget, bukan bermaksud menggurui, ini saya cuma cerita soal pandangan saya pribadi. Kalau temen-temen punya pandangan lain soal menikah yang monggo.

Ini tulisan juga biar bisa saya share ke orang yang nantinya tanya "Kapan nikah?" lagi. Hahaha. Daripada bingung jawabnya, langsung kasih link tulisan ini saja. :D #ThePowerofBlogger


Matur suwun,
Virmansyah

2 comments:

  1. Baiqlaaah, nak ...
    Diriku tak akan memaksamu (buru-buru) menikah ...
    (Mewakili jawaban ortumu xixixi 😁)

    Iya betul juga sih menurutku yaaa ...
    Buat apa menikah kalau .. dasarnya bukan datang dari hati kita sendiri.
    Dipaksa pun nantinya akan berujung tidak baik.

    ReplyDelete
  2. Sukaaaaa banget baca ini!!!!
    Jarang nemu tulisan blogger laki kayak gini, biasanya cuman seputar blogging dan blogging.

    Sampai-sampai hampir 80% blogger bahasnya bloggiiiingggg mulu, bosan juga ya, hehehe

    Btw menikah itu gak main-main, tapi kalau udah ada jodohnya dan waktunya tiba, semoga dilancarkan, aamiin :)

    ReplyDelete

Follow This Blog!