13 March 2019

Blogger Jangan Hanya Bikin 'Rate Card'

"Halo, Kami dari Agency XYZ ingin mengajak kerja sama dengan blog Anda. Apakah Anda tertarik? Boleh informasikan rate cardnya?"

Jadi blogger kalau udah dapat e-mail kek gitu, suruh kirim rate card rasanya udah jadi pro blogger. Terus asal terima aja yang penting dapet duit, tanpa mikirin blog ke depannya. Yang lucu adalah, ketika diminta mengirim rate card, yang dikirim cuma info biayanya per post saja.

Padahal kalau kita mau mempelajari lebih dalam soal rate card, isinya itu luas. Rate card itu bukan hanya soal biaya harganya, tapi juga tentang apa dan bagaimana kerja sama akan dilakukan.

Rate Card Blogger


Saya kutip tulisan Ivan Mulyadi di Marketing.co.id yang berjudul "Apa itu Rate Card".

Sebuah rate card adalah suatu dokumen yang disediakan oleh koran atau publikasi cetak lain yang menampilkan tarif periklanan perusahaan. Rate card juga menampilkan detail mengenai deadline, demografi, kebijakan, serta biaya tambahan atau persyaratan desain grafis bila ada. Semakin kecil publikasi, semakin sedikit pula informasi yang tersedia di rate card tersebut.
Selain dari rujukan artikel itu, saya juga sudah mencari apa rate card yang sebenarnya. Jadi intinya rate card itu bukan sekadar jumlah atau nilai dari sebuah kerja sama saja. Tetapi di dalamnya mencakup mekanisme/aturan/prosedur/kebijakan atas sebuah kerja sama.

Kalau kita tarik ke sisi blogger, berarti blogger harus membuat dan memiliki sebuah rate card yang isinya selain nilai dari sebuah kerja sama juga harus ada prosedur tentang bagaimana kerja sama ini akan dilakukan termasuk masalah administrasi pembayaran.

Mungkin poin-poin penting yang perlu ada di rate card dari seorang blogger diantaranya sebagai berikut :

  • Bentuk Kerja Sama. Di sini blogger bisa menjabarkan bentuk kerja sama yang bisa dilakukan di blognya. Misalnya saja Sponsored Post, Article Placement, Banner Ads, Instagram Post, Review Product, dll.
  • Nilai/Biaya. Tentunya juga perlu menginformasikan berapa nilai atau biaya dari masing-masing bentuk kerja sama itu. Dengan memberikan beberapa pilihan bentuk kerja sama dan biaya seperti itu, ini juga bisa menarik minat Advertiser untuk menggunakan bentuk kerja sama lain.
  • Statistik. Meskipun kadang ada advertiser yang memang sudah menganalisa blog kita, tetapi memberikan informasi statistik ini sebagai bentuk pertanggung jawaban atas penawaran harga yang kita berikan. Jadi misalnya kamu punya blog dengan visitor ribuan, tapi cuma dihargai Rp 100ribuan per artikel, kamu bisa memberikan penjelasan melalui statistik ini. Statistik ini wajib di update rutin dan kamu bisa menggunakan Google Analytic sebagai acuannya.
  • Isi Konten. Ini akan menjelaskan bagaimana konten 'berbayar' ini dibuat. Yang perlu dijelaskan itu misalnya : Min/Max jumlah kata, jumlah backlink, penempatan nama Brand, waktu lama tayang, dll.
  • Prosedur Pembayaran. Nah ini juga wajib dibuat oleh blogger. Soalnya saya lihat sekarang ini blogger masih banyak yang hanya 'nurut' saja apa yang jadi permintaan advertiser. Kalau nggak nurut, takut nggak jadi dapet duit. Akhirnya kerja sama yang sebenarnya rate bisa lebih tinggi, cuma dibayar recehan. Belum lagi pembayaran yang harus menunggu berminggu-minggu. Hadeeh. Masalah pembayaran ini menurut saya, blogger wajib punya aturan. Kita itu blogger, yang punya media. Kalau media kita kenapa-kenapa, yang kena ya kita bukan advertiser. Misalnya saja blog kita kena hukuman dari Google karena banyak link keluar (backlink dari pengiklan), yang kena dampaknya siapa coba? Blogger kan? Nah masalah prosedur pembayaran ini wajib diperjelas dan advertiser memang harus menuruti aturan ini. Bukan kita yang malah tunduk sama advertiser.
  • Penalty. Ini masalah pelanggaran kalau advertiser tidak mematuhi aturan dari blogger. Kalau saya sendiri masalah Penalty ini masih sebatas soal pembayaran. Di kebijakan saya saat ini, pembayaran wajib dibayarkan setelah artikel tayang. Jika memang setelah tayang tidak bisa langsung, maksimal 7 hari setelah artikel tayang. Dan jika lebih dari 7 hari belum dilakukan pembayaran, maka artikel akan saya turunkan sementara sampai dilakukan pembayaran. Mungkin ini terlihat 'kejam', tapi ini adalah bentuk dari sikap profesional kita dalam menjalin kerja sama. Karena saya sendiri menjadikan blog memang bukan sebagai media yang remeh temeh. Lagi pula saya hidup dari blog, jadi aturan seperti itu bagi saya adalah hal wajar.
Mungkin itu beberapa poin yang perlu ada di rate card dari seorang blogger.

Dan pasti akan ada yang bertanya, "wah kalau dibuat seperti itu saya takut nggak dapet kerja sama lagi."

Kalau saya sih nggak takut ya. Justru dengan adanya aturan seperti itu, kita akan dapat advertiser yang benar-benar bagus. Artinya mereka mengerti kalau media blog di era sekarang ini itu ada nilainya. Dan harapannya saya jika semua blogger memiliki aturan-aturan seperti itu yang disesuaikan dengan keunikan blognya masing-masing, ini akan membuat keberadaan blogger itu lebih terangkat lagi.

Terutama masalah 'nilai rate' nya ya. Saya yakin kalau para blogger berani membuat seperti itu, rate per post akan bisa naik. Maaf, nih maaf, bukannya gimana-gimana, tapi menurut saya kalau hari gini masih ada rate per post senilai IDR 100K-200K, itu sangat tidak layak. Bodo amat dengan DA/PA, karena menurut saya nilai dari blog itu nggak bisa diukur dari DA/PA saja. DA/PA kecil tapi kalau artikel itu tayang selamanya, dibaca hingga ribuan kali, masa iya mau dibayar Rp 100ribuan?

Dan yang perlu temen-temen blogger tahu, kita ini dibutuhkan lho. Kita ini adalah pasar yang empuk di era sekarang ini. Dan ini adalah momen dimana kita harus bisa mengangkat kesejahteraan blogger dimulai dari kerja sama-kerja sama seperti ini.

Hehe, maap kalau malah jadi ngompor-ngomporin. Tapi emang bener kan?

Blogger


Tulisan ini kalau dibaca orang agency pasti pada bilang apa sih ini. Haha. Maap para agency, kami bukan media untuk tempat nyepam. :)

Tapi yakinlah masih banyak kok agency yang sangat terbuka dengan seperti ini dan mereka memahami aturan yang kita buat. Minggu kemarin saya pun dapat Sponsored Post, mekanisme pembayaran dari mereka sebenarnya dilakukan 3 minggu setelah invoice dari saya diterima. Tetapi karena saya punya rate card atau mekanisme pembayaran sendiri, akhirnya mereka menyetujui dengan aturan/mekanisme pembayaran dari saya.

Intinya masih banyak advertiser/agency yang mau diajak berdiskusi dan aware dengan aturan yang kita buat. So, jangan takut bikin rate card yang benar-benar rate card.

Terakhir, buat yang tanya cara bikin rate card gimana, maap saya nggak bisa jawab. Soalnya sudah banyak contoh-contoh rate card di internet. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan kita saja. Mari buat rate card jangan sekadar bikin rate card.

Dan yang paling terakhir, jangan 100% percaya omongan saya di atas, karena itu bisa saja salah, bisa saja benar. :) Happy Blogging!

Image material via Pixabay.com


Matur suwun,
Virmansyah

5 comments:

  1. Terima kasih atas sharing informasinya mas virmansyah. Tetap semangat berbagi dan NgeBlog Yach!

    ReplyDelete
  2. Nah informasi bagus mas. Mengingatkan kita agar bangga pada profesi sendiri.

    ReplyDelete
  3. Mantb ulasannya intinya jgn gusrak gusruk dn salah langkah ya ntar mlj rugi sendiri.. Thx infonya bermanfaat bgt 🙏

    ReplyDelete
  4. kalo suatu saat aku mulai membuka blog utk menerima job artikel, aku bakal perhatiin cara membuat rate card yg bener2 rate card :). selama ini memang blm tertarik utk menjadikan blog sumber income. tp aku pernah baca tulisan dr mba Grace melia ttg gimana dia membuat rate card. ga jauh beda dgn yg mas tulis. memang sih yaaa, rate card yg bagus dan lengkap, pasti akan membuat agency berfikir, kita bukan bloggger abal-abal ato murahan. jadi mereka ga bisa seenaknya meminta kita nulis sesuai keinginan mereka. :)

    ReplyDelete
  5. bener aku sepakat banget blog itu tayang selamanya
    jadi ga seharusnya cuma luat DAPA itu
    kalaupun DAPA besar belum tentu blog itu menarik
    justru kebanyakan blog dengan DAPA rendah malah lebih menarik untuk dibaca

    ReplyDelete

Follow This Blog!