21 June 2019

Menelusuri Siapa itu Meylisa Rahman

Tulisan ini adalah bentuk pertanggung jawaban saya karena pernah menulis informasi tentang Meylisa Rahman di salah satu blog saya (www.ruangpegawai.com). Di mana beberapa kali ada blogger yang ingin mencari tahu tentang Meylisa Rahman akhirnya menuju ke artikel di blog saya tersebut. Yang pada akhirnya dan baru saya ketahui ternyata isi dalam tulisan tersebut adalah tidak benar.
Meylisa Rahman


Mengapa tidak dihapus saja artikel tersebut? Kan beres!

Artikel tersebut sudah saya perbarui dan tidak lagi saya cantumkan nama Meylisa Rahman. Namun, ini bukan soal hapus menghapus. Melalui tulisan ini saya juga ingin memberikan penjelasan mengapa saya share soal kasus ini dan konfirmasi soal beberapa opini dari blogger yang sempat kerja sama dengan dia dan menganggap saya melakukan penggiringan opini.

Saya sama sekali tidak berniat melakukan penggiringan opini, saya hanya ingin share pengalaman saya dengan akun Meylisa Rahman. Mungkin karena sharenya tidak lengkap, jadi banyak yang beranggapan berbeda-beda. Dan saya sama sekali tidak akan membahas soal job blogger. Nah melalui tulisan ini saya akan ceritakan kronologinya.

====

#Awal Komunikasi dengan Meylisa Rahman

Saya memiliki blog tentang karier (www.ruangpegawai.com), salah satu kanalnya adalah RuangPegawai Talk! yang membahas profesi (job desc) dengan langsung menanyakan ke narasumbernya langsung.

Salah satu media yang saya gunakan adalah LinkedIn, karena di sini saya bisa dengan mudah mencari para profesional untuk saya tanya-tanya seputar profesi.

Di bulan Mei 2017, waktu itu saya ingin mencari seseorang yang memiliki profesi SEO Specialist. Karena saya memang ingin membahas job desc SEO Specialist ini bagaimana. Akhirnya saya coba Inbox beberapa orang yang memiliki profesi ini, salah satunya adalah Meylisa Rahman. Dari beberapa orang itu yang memberikan tanggapan adalah Meylisa Rahman.

LinkedIn Meylisa Rahman
Chat ini pada 5 Mei 2017. Screenshot ini saya lakukan setelah akun saya di block olehnya.

Di hari itu juga saya kirim draft pertanyaannya, saya interviewnya lewat tertulis supaya tidak mengganggu kesibukan narsum.

Nah di hari berikutnya (6 Mei 2017), dia kirim foto untuk kebutuhan Featured Image di tulisan nanti. Foto yang dikirim seperti ini.

Meylisa Rahman



Ketika melihat foto yang dikirimkan tersebut, sebenarnya saya agak curiga. Selain mirip artis (OCD), juga tidak mirip sama foto profil di LinkedIn nya. Waktu itu foto profil di LinkedIn seperti ini.

Meylisa Fake

Saya pun sempat tanyakan ke dia, kok fotonya mirip seperti OSD.

chat Meylisa
Karena waktu itu saya nggak terlalu memusingkan foto, dan menganggap orang-orang di LinkedIn pasti orang-orang profesional, jadi saya abaikan saja dan tetap positive thinking. Bagi saya yang penting isi kontennya hasil interview tersebut.

Di tanggal 7 Mei 2017, dia sudah kirim balik draft interview yang saya kirimkan. Dan di tanggal 10 Mei 2017 artikel sudah saya publish.

Setelah itu semua masih baik-baik saja dan normal.

#Dihubungi Salah Satu Blogger

Nah saya mulai mencari tahu sosok Meylisa Rahman ini bermula ketika pada hari Rabu, 19 Juni 2019 saya dihubungi salah satu blogger melalui DM Twitter yang menanyakan sosok Meylisa Rahman ini. Beliau menanyakan apakah Meylisa Rahman ini tokoh nyata atau fiktif. Beliau menanyakan karena dapat job sponsored post yang ada masalah (penundaan) dipembayaran.

Saya sempat kaget mengapa beliau tiba-tiba DM dan menanyakan tentang Meylisa Rahman. Tapi pikiran saya langsung tertuju ke postingan saya di ruangpegawai.com yang menuliskan tentang Meylisa ini.

Kemarin saya jawab saja kalau dia Nyata, kerja di agency dan pernah saya interview soal job desc. Saya jawab gitu ya memang saya menganggapnya Meylisa ini benar ada, wong saya pernah tanya-tanya ke dia.

Saya jadi mulai curiga kembali ketika beliau juga penasaran dengan fotonya.

Tapi sebenarnya saya nggak mau bahas itu lagi, toh urusan saya dengan dia sudah lama dan dulu nggak ada masalah apa-apa. Saya juga tidak pernah dapat tawaran job dari dia, jadi kemarin saya minta beliau untuk cari tahu sendiri.

Dari sini coba lihat profil LinkedIn nya lagi, dan ternyata profilnya sudah berubah. Foto profil berubah, biodata berubah. Kalau biasanya pengguna LinkedIn itu kalau pernah kerja di perusahaan A pasti ditulis di profilnya (riwayat kerjanya), dia ini tidak. Dulu waktu saya interview itu dia mengaku bekerja di agency suatu agency.

Tapi pas saya lihat profilnya kemarin, tidak ada informasi kalau pernah bekerja di agency tersebut. Sekarang statusnya sebagai SEO Specialist. Saya pun coba sapa lagi di Inbox, tetapi tidak balas. Saya pun coba cari tahu media sosialnya, ternyata nama Meylisa Rahman tidak ada yang menjurus ke dia, hanya akun LinkedIn saja. Masa iya sih orang seperti Meylisa Rahman tidak punya media sosial?

Dan saya pun malah jadi kepengin tahu, siapa sosok Meylisa Rahman ini khususnya kaitannya dengan interview yang pernah saya lakukan dulu.

Karena saya nggak punya kontaknya, cari medsosnya juga tidak ada, akhirnya saya coba telusuri dari rekam jejaknya.

#Menelusuri Meylisa Rahman


Coba lihat chat di tanggal 5 Mei 2017 waktu saya tanya untuk kesediaannya di interview, dia jawab boleh tapi dia mau titip link startupnya. Nah dari link startup itu, saya pun juga sudah sematkan link ini di bawah publikasi di ruangpegawai.com tersebut.

Nah dari informasi link tersebut saya cari tahu, akhirnya mendapatkan informasi kontak pemilik startup itu (sekarang web ini sudah mati).

Dari informasi kontak tersebut, saya coba WA . Saya sendiri belum tahu apakah dia ini nomornya Meylisa atau siapa. Setelah saya chat dan tanya-tanya, ternyata orang ini kenal dengan Meylisa Rahman dan akhirnya saya dikasih kontak dengan nama kontak "Meylisa Tsel".

Oke, dari sini saya langsung coba hubungi Meylisa Tsel tersebut.

Chat pertama yang saya tanyakan adalah "Ini dengan Meylisa Rahman?" dan kemudian saya tanyakan apakah pernah pakai foto orang lain untuk profilnya, dan akhirnya dia mengatakan seperti ini.

Mey


Dari ini fix, saya merasa tertipu waktu itu. Ternyata yang saya ajak komunikasi di LinkedIn dan saya tanya2 soal profesi SEO Specialist itu bukan si Meylisa Rahman. Saya merasa salah karena mempublikasikan informasi yang ternyata tidak valid. Akhirnya saya pun langsung edit postingan tentang Meylisa di blog saya, ruangpegawai.com.

Pertanyaan lain muncul, lantas siapa yang saya ajak komunikasi dulu? Saya pun tanyakan ke Meylisa, mungkin dia kenal, ya harusnya kenal, wong tadi bilang kalau akunnya dipakai temen untuk Approach Blogger.

Saya tanyakan dong siapa temannya yang waktu itu pakai, saya minta informasi nama dan kontaknya. Tapi tetap tidak disebutkan namanya.

Siapa Meylisa

Saya nggak paham aja sih, dia udah nyerahin akunnya ke banyak orang dan pas ada ada blogger yang mau tanya2 soal profesi/job desc eh dianggap tidak penting buat dia.

Malah dianggap lucu-lucuan sama dia.

Chat Mey

Dia sebenarnya juga sudah tahu, tapi diam saja. Kalau kerja samanya sama blogger, tetapi untuk urusan lain tidak menghargai. Harusnya kalau sudah tahu seperti itu ya ditolak tawaran interview saya, atau suruh turunin kalau ternyata tahunya kemudian hari. Tapi saya sebagai blogger cuma dianggap lucu-lucuan.

Padahal niat saya menulis pengalaman profesi seseorang supaya bisa memberikan referensi dan informasi buat orang2 yang ingin tahu atau kerja dibidang itu.

Karena dia nggak mau kasih tahu siapa nama temannya itu, akhirnya saya balik chat ke pemilik Startup itu tadi. Saya ingin tahu apakah dia kenal Meylisa atau tidak, atau jangan-jangan malah orang yang saya ajak komunikasi itu.

Konfirmasi dari pemilik startup yang juga pernah menggunakan akun Meylisa Rahman

Hhm, jadi akun Meylisa Rahman itu fake? Tapi apakah sosok Meylisa Rahmannya ini ada? Mari kita telusuri.

=====

Apa yang saya tulis di sini, saya hanya ingin menceritakan tentang urusan saya, yakni interview soal job desc. Saya tidak ada urusan tentang job blogger yang dibayar atau tidak. Karena di Facebook banyak yang berkomentar, pernah beberapa kali kerja sama dengan dia tapi dibayar juga. Ada juga yang tidak mempermasalahkan akun fake atau tidak, yang penting dibayar. Ya itu terserah masing-masing, saya tidak ada urusan kalau soal job blogger, soalnya juga tidak pernah dapat job dari dia.

Hanya saja menurut saya pribadi, ini menurut pandangan saya ya. Kalau menghubungi blogger untuk perihal kerja sama profesional ya harusnya pakai identitas pribadi yang asli atau pakai identitas perusahaannya. Karena ini juga berhubungan dengan administrasi, supaya kalau ada apa-apa juga bisa lebih jelas menghubunginya. Kalau pakai akun anonim kan sulit untuk jika nanti ingin konfirmasi misal ada keterlambatan pembayaran atau apa. Kalau pakai akun anonim untuk distribusi informasi sih nggak masalah, lha ini kerja sama profesional. :)

Tapi ya sudahlah, kesimpulannya silakan dinilai sendiri, benar atau salah itu dari sudut pandang masing-masing orang. Bagi saya benar belum tentu bagi Anda benar, begitu juga sebaliknya. Sekali lagi ini adalah pertanggung jawaban dari tulisan saya yang pernah saya publish di blog ruangpegawai.com tentang Meylisa Rahman.

Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan, silakan langsung kontak saya. Saya sangat terbuka untuk diskusi baik-baik.

13 March 2019

Blogger Jangan Hanya Bikin 'Rate Card'

"Halo, Kami dari Agency XYZ ingin mengajak kerja sama dengan blog Anda. Apakah Anda tertarik? Boleh informasikan rate cardnya?"

Jadi blogger kalau udah dapat e-mail kek gitu, suruh kirim rate card rasanya udah jadi pro blogger. Terus asal terima aja yang penting dapet duit, tanpa mikirin blog ke depannya. Yang lucu adalah, ketika diminta mengirim rate card, yang dikirim cuma info biayanya per post saja.

Padahal kalau kita mau mempelajari lebih dalam soal rate card, isinya itu luas. Rate card itu bukan hanya soal biaya harganya, tapi juga tentang apa dan bagaimana kerja sama akan dilakukan.

Rate Card Blogger


Saya kutip tulisan Ivan Mulyadi di Marketing.co.id yang berjudul "Apa itu Rate Card".

Sebuah rate card adalah suatu dokumen yang disediakan oleh koran atau publikasi cetak lain yang menampilkan tarif periklanan perusahaan. Rate card juga menampilkan detail mengenai deadline, demografi, kebijakan, serta biaya tambahan atau persyaratan desain grafis bila ada. Semakin kecil publikasi, semakin sedikit pula informasi yang tersedia di rate card tersebut.
Selain dari rujukan artikel itu, saya juga sudah mencari apa rate card yang sebenarnya. Jadi intinya rate card itu bukan sekadar jumlah atau nilai dari sebuah kerja sama saja. Tetapi di dalamnya mencakup mekanisme/aturan/prosedur/kebijakan atas sebuah kerja sama.

Kalau kita tarik ke sisi blogger, berarti blogger harus membuat dan memiliki sebuah rate card yang isinya selain nilai dari sebuah kerja sama juga harus ada prosedur tentang bagaimana kerja sama ini akan dilakukan termasuk masalah administrasi pembayaran.

Mungkin poin-poin penting yang perlu ada di rate card dari seorang blogger diantaranya sebagai berikut :

  • Bentuk Kerja Sama. Di sini blogger bisa menjabarkan bentuk kerja sama yang bisa dilakukan di blognya. Misalnya saja Sponsored Post, Article Placement, Banner Ads, Instagram Post, Review Product, dll.
  • Nilai/Biaya. Tentunya juga perlu menginformasikan berapa nilai atau biaya dari masing-masing bentuk kerja sama itu. Dengan memberikan beberapa pilihan bentuk kerja sama dan biaya seperti itu, ini juga bisa menarik minat Advertiser untuk menggunakan bentuk kerja sama lain.
  • Statistik. Meskipun kadang ada advertiser yang memang sudah menganalisa blog kita, tetapi memberikan informasi statistik ini sebagai bentuk pertanggung jawaban atas penawaran harga yang kita berikan. Jadi misalnya kamu punya blog dengan visitor ribuan, tapi cuma dihargai Rp 100ribuan per artikel, kamu bisa memberikan penjelasan melalui statistik ini. Statistik ini wajib di update rutin dan kamu bisa menggunakan Google Analytic sebagai acuannya.
  • Isi Konten. Ini akan menjelaskan bagaimana konten 'berbayar' ini dibuat. Yang perlu dijelaskan itu misalnya : Min/Max jumlah kata, jumlah backlink, penempatan nama Brand, waktu lama tayang, dll.
  • Prosedur Pembayaran. Nah ini juga wajib dibuat oleh blogger. Soalnya saya lihat sekarang ini blogger masih banyak yang hanya 'nurut' saja apa yang jadi permintaan advertiser. Kalau nggak nurut, takut nggak jadi dapet duit. Akhirnya kerja sama yang sebenarnya rate bisa lebih tinggi, cuma dibayar recehan. Belum lagi pembayaran yang harus menunggu berminggu-minggu. Hadeeh. Masalah pembayaran ini menurut saya, blogger wajib punya aturan. Kita itu blogger, yang punya media. Kalau media kita kenapa-kenapa, yang kena ya kita bukan advertiser. Misalnya saja blog kita kena hukuman dari Google karena banyak link keluar (backlink dari pengiklan), yang kena dampaknya siapa coba? Blogger kan? Nah masalah prosedur pembayaran ini wajib diperjelas dan advertiser memang harus menuruti aturan ini. Bukan kita yang malah tunduk sama advertiser.
  • Penalty. Ini masalah pelanggaran kalau advertiser tidak mematuhi aturan dari blogger. Kalau saya sendiri masalah Penalty ini masih sebatas soal pembayaran. Di kebijakan saya saat ini, pembayaran wajib dibayarkan setelah artikel tayang. Jika memang setelah tayang tidak bisa langsung, maksimal 7 hari setelah artikel tayang. Dan jika lebih dari 7 hari belum dilakukan pembayaran, maka artikel akan saya turunkan sementara sampai dilakukan pembayaran. Mungkin ini terlihat 'kejam', tapi ini adalah bentuk dari sikap profesional kita dalam menjalin kerja sama. Karena saya sendiri menjadikan blog memang bukan sebagai media yang remeh temeh. Lagi pula saya hidup dari blog, jadi aturan seperti itu bagi saya adalah hal wajar.
Mungkin itu beberapa poin yang perlu ada di rate card dari seorang blogger.

Dan pasti akan ada yang bertanya, "wah kalau dibuat seperti itu saya takut nggak dapet kerja sama lagi."

Kalau saya sih nggak takut ya. Justru dengan adanya aturan seperti itu, kita akan dapat advertiser yang benar-benar bagus. Artinya mereka mengerti kalau media blog di era sekarang ini itu ada nilainya. Dan harapannya saya jika semua blogger memiliki aturan-aturan seperti itu yang disesuaikan dengan keunikan blognya masing-masing, ini akan membuat keberadaan blogger itu lebih terangkat lagi.

Terutama masalah 'nilai rate' nya ya. Saya yakin kalau para blogger berani membuat seperti itu, rate per post akan bisa naik. Maaf, nih maaf, bukannya gimana-gimana, tapi menurut saya kalau hari gini masih ada rate per post senilai IDR 100K-200K, itu sangat tidak layak. Bodo amat dengan DA/PA, karena menurut saya nilai dari blog itu nggak bisa diukur dari DA/PA saja. DA/PA kecil tapi kalau artikel itu tayang selamanya, dibaca hingga ribuan kali, masa iya mau dibayar Rp 100ribuan?

Dan yang perlu temen-temen blogger tahu, kita ini dibutuhkan lho. Kita ini adalah pasar yang empuk di era sekarang ini. Dan ini adalah momen dimana kita harus bisa mengangkat kesejahteraan blogger dimulai dari kerja sama-kerja sama seperti ini.

Hehe, maap kalau malah jadi ngompor-ngomporin. Tapi emang bener kan?

Blogger


Tulisan ini kalau dibaca orang agency pasti pada bilang apa sih ini. Haha. Maap para agency, kami bukan media untuk tempat nyepam. :)

Tapi yakinlah masih banyak kok agency yang sangat terbuka dengan seperti ini dan mereka memahami aturan yang kita buat. Minggu kemarin saya pun dapat Sponsored Post, mekanisme pembayaran dari mereka sebenarnya dilakukan 3 minggu setelah invoice dari saya diterima. Tetapi karena saya punya rate card atau mekanisme pembayaran sendiri, akhirnya mereka menyetujui dengan aturan/mekanisme pembayaran dari saya.

Intinya masih banyak advertiser/agency yang mau diajak berdiskusi dan aware dengan aturan yang kita buat. So, jangan takut bikin rate card yang benar-benar rate card.

Terakhir, buat yang tanya cara bikin rate card gimana, maap saya nggak bisa jawab. Soalnya sudah banyak contoh-contoh rate card di internet. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan kita saja. Mari buat rate card jangan sekadar bikin rate card.

Dan yang paling terakhir, jangan 100% percaya omongan saya di atas, karena itu bisa saja salah, bisa saja benar. :) Happy Blogging!

Image material via Pixabay.com

25 February 2019

Mengapa Memilih Menjadi Full-Time Blogger

Dulu waktu kecil saya termasuk anak yang bingung kalau ditanya cita-citanya ingin jadi apa. Kalau dulu anak-anak seumuran saya pengennya jadi dokter, tentara, polisi, guru, saya...tidak pernah memilih salah satu diantara itu dan tidak punya gambaran ingin jadi apa.

Full Time Blogger
© Pixabay

Dan ternyata saat ini saya menjadi Full-Time Blogger, yang saya rasa masih banyak orang khususnya di Indonesia yang masih awam dan memandang sebelah mata profesi ini. Padahal di negara-negara maju profesi seperti ini sudah biasa, tetapi di negara ber-flower seperti negara kita ini menjadi Full-time blogger belum bisa disebut sebagai pekerjaan.

Sebelum saya menceritakan mengapa memilih menjadi Full-time Blogger, saya akan coba flashback ke beberapa tahun yang lalu. Yang mana menurut saya sedikit memengaruhi pilihan pekerjaan ini.

Komputer Memikat Hatiku


Saya baru memiliki keinginan profesi pekerjaan itu ketika sudah SMA. Waktu itu dipikiran saya kalau nanti bekerja dibidang yang berhubungan dengan komputer sepertinya menyenangkan. Ya hanya itu saja, belum ada profesi spesifiknya, pokoknya asal pegang komputer saja. Padahal saya waktu itu belum punya komputer, dan tidak membayangkan akan bisa punya komputer selama masa sekolah.

Pertama kali pegang komputer itu kelas 1 SMP pas ada ekskul komputer dan itu rasanya seneng banget. Lihat monitor, CPU, disket, rasanya sudah seneng. Dan anehnya saya termasuk yang paling cepet nangkep materinya. Padahal saya tidak pernah pegang komputer sebelumnya. Sayangnya ekskul ini tidak berjalan lama. Pupus sudah bisa pegang komputer di lab sekolah.

Nah pas SMA ada mata pelajaran TIK, sangat antusias pas praktek, meskipun dalam hati agak sedih karena di rumah tidak punya komputer sementara teman-teman yang lain beberapa punya. Tapi itu sudah mengobati rasa penasaran pegang komputer.

Di masa-masa ini pun akhirnya kenal yang namanya Warung Internet (Warnet), sering tuh dulu waktu pulang sekolah mampir ke Warnet. Dulu zaman-zamannya Friendster pula, jadi mainan FS pas di Warnet. :D

Blog


Pada akhirnya di awal-awal semester pertama kelas III SMA kenal yang namanya blog. Mulailah buat blog gratisan di WordPress.com. Dan ternyata blog ini sangat meracuni saya pada waktu itu. Dari yang awalnya jarang ke warnet, setelah punya blog jadi sering banget. Apalagi pas pulang sekolah lebih awal, pasti saya langsung mampir ke warnet. Pernah waktu itu ketemu temen di warnet juga, tapi dia buat yang-yangan. #skip

Di sinilah saya mulai merasa kalau ngeblog itu mengasyikkan. Hal yang membuat saya senang adalah ketika tulisan saya ternyata ada yang membacanya, kemudian ada yang bertanya dan mengirim komentar di tulisan itu. Waktu itu rasanya seneng banget, nggak nyangka saja. Dan itu yang bikin saya jadi selalu ingin menulis dan mempelajari tentang blog. Misalnya saja bagaimana mendatang visitors ke blog, yang pada akhirnya dari situ kenal dengan istilah SEO (Search Engine Optimization).

Singkat cerita dari kesukaan mengoperasikan komputer dan blog ini membawa saya untuk melanjutkan kuliah dan memilih jurusan IT. Untuk bab ini saya pernah sedikit ceritakan di postingan saya sebelumnya. Baca : Kuliah Jurusan Teknik Informatika Mengubah Mindset Saya

Di masa-masa kuliah ini saya semakin ngulik soal blog. Karena sudah memiliki komputer (laptop) sendiri. Alhamdulillah.

Akhirnya bisa buat blog dari Blogspot, belajar soal hosting domain, dan kenal yang namanya blog monetize. Yakni menjadikan blog agar bisa menghasilkan. Saya ingat betul pertama kali bisa menghasilkan uang dari blog, waktu itu pakai media iklan KumpulBlogger.com (sekarang sudah tidak ada) dan pembayaran pertama adalah Rp 50ribuan, dan itu saya pinjam rekening temen kuliah karena saya nggak punya rekening. :D

Kemudian pengalaman blog monetize saya berlanjut, waktu itu sekitar tahun 2011/2012 (masih kuliah) saya akhirnya bisa mendapatkan Rp 1juta pertama saya dari blog. Setelah dikumpul-kumpul akhirnya bisa buat beli smartphone Android pertama pakai duit sendiri.

Di tahun-tahun ini juga saya mulai kenal dengan lebih banyak blogger, komunitas dan kenal dengan istilah blogpreneur. Saya pun jadi semangat ngeblog, dan mulai ada pikiran bisa nih kalau blog dijadikan sebuah pekerjaan. Karena sebelumnya saya juga pernah baca-baca blog lain yang memang ada yang sudah bekerja penuh waktu melalui blog. Tapi ya waktu itu hanya sebatas wow aja, dan saya belum memiliki keinginan untuk memilih seperti itu.

Mungkin pemikiran saya masih seperti orang pada umumnya, masa sih blog bisa buat 'hidup' dan saya sendiri juga waktu itu punya cita-cita yang lebih realistis, yakni jadi programmer.

Kerja Blog

Kerja Tidak Jauh-Jauh dari Blog

Akhirnya setelah sudah tidak kuliah, pekerjaan saya pun tidak jauh-jauh dari blog ternyata. Saya pernah bikin jasa pembuatan web kecil-kecilan, ini pun juga karena menekuni blog. Bahkan di kuliah pun tidak diajari bikin web yang profesional. Terus pernah freelance jadi Web Admin, mengelola web toko online dari sisi konten dan SEO. Lagi-lagi saya mengandalkan pengalaman yang saya dapatkan dari ngeblog.

Kemudian pernah juga kerja full-time jadi SEO Specialist, yang lagi-lagi pengalaman SEO ini saya dapatkan dari mengoptimasi blog saya sendiri.

Dan pada akhirnya di awal 2016 memutuskan untuk resign dan menjadi Full-Time Blogger.

Ini sebenarnya keputusan yang cukup berani. Karena pada waktu itu, blog saya belum rutin menghasilkan setiap bulannya. Padahal sebelum resign saya pernah diskusi sama beberapa teman yang sudah fokus ngeblog, mereka menyarankan untuk jangan resign dulu dan tunggu supaya blog bisa menghasilkan rutin tiap bulan.

Karena saya orangnya kalau sudah suka sama sesuatu kadang tidak bisa ditahan lagi, akhirnya Bismillah resign.

Mulailah saya fokus untuk mengelola blog saya. Waktu itu blog monetize saya hanya satu, dan ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Susah bro, nggak cepet, butuh proses.

Tapi saya tetap fokus, konsisten dan mulai coba membuat blog lagi untuk monetize.Dengan harapan supaya cepat Payout. FYI, waktu itu saya menggunakan Google AdSense untuk memonetize utama blog saya, dan Google AdSense itu punya kebijakan agar saldo bisa dicairkan itu minimal harus USD 100. Dan dulu itu untuk bisa dapat USD 100 butuh waktu 2-3 bulan, otomatis nggak bisa gajian tiap bulan.

Nah saya bikin blog baru, harapannya adalah supaya bisa nambahin saldo minimum payout.

Singkat cerita, saya di sini belajar bagaimana fokus dan konsisten terhadap sesuatu. Dan itu sulit banget, saya sempat berkeinginan untuk bekerja kantoran kembali. Pernah coba kirim-kirim lamaran, ternyata dipanggil cuy. Saya datang dong, lhah kok diterima, tetapi dalam hati saya kok sepertinya bukan ini deh pilihan saya. Saya masih ingin bertahap ngeblog, tapi hasilnya kok gitu.

Sempat bimbang, tapi akhirnya lanjut fokus ngeblog. Dan pada akhirnya bisa mendapatkan hasil yang diinginkan dan sampai sekarang. Meskipun sekarang belum benar-benar mencapai target yang diinginkan, paling tidak jika saya tidak bekerja selama sebulan dua bulan, saya masih tetap dapat penghasilan yang nilainya tidak berkurang. Berbeda ketika saya bekerja kantoran dulu.

Itu cerita singkatnya, tentu dibalik cerita itu ada hal-hal lain yang saya lakukan tapi tidak mungkin saya tulis di sini semua.

Setelah membaca sampai kalimat ini, saya yakin belum mendapatkan jawaban dari judul tulisan ini. Ya, karena saya belum menjelaskannya, yang di atas baru serangkaian perjalanannya.

Lalu, Mengapa Memilih Jadi Full-Time Blogger?

Blogger

1. Fleksibilitas Waktu

Salah satu alasan saya resign adalah bosan dengan rutinitas kerja yang gitu-gitu saja. Dalam hal ini waktu. Jujur selama saya bekerja dengan orang lain, motivasi saya bekerja bukan untuk mencari uang. Bagi saya yang penting bekerja bisa memberikan kenyamanan dan kesenangan batin. Untuk apa saya dapat gaji gede, tetapi kerja tidak nyaman? Bagi saya itu menyakitkan.

Dan saya melihat menjadi Full-Time Blogger adalah jawabannya. Saya bisa bekerja dimana saja, kapan saja tanpa harus ada waktu yang mengingat.

2. Prospek yang Bagus

Saya bukan tipe orang yang gegabah dalam memutuskan sesuatu. Bahkan bisa dibilang saya tipe orang yang sulit memutuskan sesuatu. Bukan karena tidak punya pendirian atau apa, tetapi lebih ke melihat dampak dari keputusan yang akan saya buat tersebut.

Ketika saya memutuskan menjadi Full-Time Blogger itu juga sudah memikirkan dan melihat semuanya. Karena ini berhubungan dengan pekerjaan dan masa depan, saya pun juga melihatnya jauh ke depan. Dan menurut saya prospeknya sangat bagus.

Saya melihat perkembangan dunia IT akan terus meningkat, bidang internet mengalami perkembangan dan yang paling utama adalah gaya hidup orang pun akan berubah. Dan coba lihat sekarang dan 5-10 tahun yang lalu, jauh berbeda. Sekarang orang lebih melek teknologi, apa-apa internet. Bahkan sehari tanpa internet pun rasanya hidup garing. Saya melihatnya ini sebagai peluang, saya tak mau hanya jadi penikmat teknologi tetapi juga orang yang bisa memanfaatkan teknologi untuk digunakan lebih baik lagi.

3. Dunia Digital Advertising Semakin Meningkat

Peran saya sebagai Full-time Blogger itu dalam dunia digital advertising adalah sebagai publisher atau penayang. Media blog yang saya miliki itu adalah tempat untuk para Advertiser memajang iklannya ke pembaca blog.

Saya melihat dunia digital advertising ini akan semakin meningkat. Ya salah satunya karena adanya perubahan gaya hidup masyarakat dan kemajuan teknologi di segala bidang.

Di Indonesia sendiri hingga saat ini menurut saya perkembangan dunia digital advertising belum terlalu massive. Tidak seperti di negara-negara maju. Dan saya yakin ini bakal meningkat, tentunya pihak Publisher juga akan diuntungkan.

4. Peluang Passive Income

Soal passive income ini sebenarnya saya terpengaruh dari pengalaman saya ikut MLM. Ya, dulu saya pernah mencoba ikut MLM, :D untuk melihat bagaimana sistem mereka bekerja. Dan di waktu-waktu seminar, saya selalu mendengar istilah 'Passive Income'. Wih, waktu itu dengernya pakai ketawa.

Tapi pada akhirnya Passive Income itu memang ada dan bisa dilakukan, bukan di MLM tetapi di blog. Waktu itu berpikir kalau bisa punya blog monetize banyak maka peluang passive income semakin besar. Yang penting bisa memaintenance blog agar bisa punya traffic yang stabil.

Dari baca-baca pengalaman blogger lain pun juga banyak yang sudah bisa mendapatkan (passive income) itu.

5. Pilihan Hati, Mau Bagaimana Lagi?

Saya kenal blog sejak tahun 2008 dan tidak pernah putus hingga sekarang. Saya sudah jatuh hati pada blog, saya bisa menuliskan semua apa yang saya resahkan di blog, dan saya merasa nyaman.

Bicara soal kenyamanan, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan istilah "Keluarlah dari Zona Nyaman".

Ini istilah yang menurut saya aneh atau lebih tepatnya kurang lengkap. Saya setuju jika istilahnya jadi gini "Keluarlah dari Zona Nyaman Jika Tak Bisa Membuatmu Berkembang".

Nyaman itukan berarti senang, dari hati dan pikiran sama-sama menerima kesenangan itu sehingga merasa nyaman. Dan kalau sudah nyaman, akan mudah untuk mengembangkan diri karena tidak ada yang membebani. Kalau tidak bisa berkembang, ya jangan salahkan zonanya, tapi cobalah intropeksi diri.

Intinya adalah, saya sudah nyaman dengan pilihan ini. Ini pilihan yang benar-benar dari hati. Saya ketika memutuskan sesuatu pasti selalu melibatkan hati, bukan sekadar akal pikiran. Sehingga ketika sudah memutuskan nanti hasilnya membuat zaman. Nah, buat kamu yang nanti saya pilih, jangan pernah ditolak, karena ketika saya memilih saya sudah memutuskannya dengan hati dan pikiran. Mas fokus bahas blog mas....!!!

Itulah beberapa alasan saya memilih menjadi Full-Time Blogger.  Mungkin masih ada beberapa alasan lagi, tetapi otak saya sepertinya sudah lelah mau nulis apa. Ketika nulis sampai di kalimat ini ternyata sudah jam 12 malam. Ya nanti saya update deh kalau ada udah fresh lagi.

Next, saya akan bahas soal tantangan menjadi Full-Time Blogger, biar imbang. Karena kalau baca ini kesannya jadi Full-Time Blogger itu bisa cepat. Tidak semudah itu Ferguso. Harus butuh perjuangan di awal-awal, butuh waktu, butuh fokus, butuh konsistensi, dan tentunya butuh hati.

Dan hingga saat ini saya tidak pernah punya pikiran buat blog buat cari duit. Ya meskipun pada akhirnya dapat duit dari blog, tapi yang jadi motivasi utama saya adalah memberikan solusi atas masalah yang orang ingin tahu. Orang-orang ingin tahu soal ini itu, cari di Google, muncul blog saya, baca tulisan saya dapat solusi/informasinya, semoga. Itu yang jadi tujuannya.

Oke, mata sudah mbliyut. Ini sekadar sharing pengalaman saja sekaligus untuk update blog pribadi ini karena sudah lama tidak update. :D Eh sekalinya update panjang bener, langsung dirapel. :D Matur suwun, kalau mau tanya-tanya boleh, atau mungkin mau usul saya harus nulis apa lagi, langsung tulis di kolom komentar saja, Insya Allah saya jawab kalau bisa jawab.

Follow This Blog!