09 October 2018

Kuliah Jurusan Teknik Informatika Mengubah Mindset Saya

Ada banyak alasan mengapa seseorang ingin melanjutkan kuliah. Ada yang memang ingin mencari ilmu, tetapi ada juga yang beralasan untuk sekadar mendapatkan gelar, paksaan orang tua, atau malah ikut-ikutan teman.

Apapun itu, saya yakin ketika nanti sudah terjun ke dalam perkuliahan dan aktif di dalamnya, pasti akan ada pola pikir yang berubah. Bahkan bisa jadi tujuan awal kuliah menjadi berubah ketika sudah tahu kondisi pergaulan saat kuliah dan aktivitas di dalamnya.

Termasuk saya, dimana kuliah sangat mempengaruhi pola pikir saya hingga saat ini.

Tulisan ini hanyalah sharing semata atas apa yang saya alami ketika kuliah dulu dan saya rasakan saat ini. Kalau pun ada hal baik di dalamnya silakan diambil, kalau ada yang salah (pasti ada) janganlah ditiru.

Kuliah IT

***
Saya masuk kuliah di tahun 2009, setelah lulus SMA Jurusan IPS akhirnya saya melanjutkan kuliah. Dulu memang ada keinginan dari diri sendiri ingin melanjutkan. Namun memang sempat bingung ketika ingin mencari jurusan kuliah.

Waktu itu yang ada di benak saya ada 3 pilihan jurusan, yang pertama IT, Ilmu Komunikasi dan DKV. Masing-masing ada alasannya.

Jurusan IT, entah mengapa dulu ketika mendengar komputer itu sangat senang sekali. Padahal saya itu tidak punya komputer/laptop di rumah. Perangkat komputer pertama yang saya miliki itu laptop Compaq CQ50 dan itu dibeli saat masuk pertengahan Semester I.

Kalau mengoperasikan komputer sih pernah, pertama kali itu dulu pas kelas 1 SMP, waktu itu ada ekskul komputer. Tapi nggak berjalan lama sih waktu itu. Dan kemudian mulai sering mengoperasikan komputer itu ketika SMA pas ada mata pelajaran TIK. Di tambah ketika saya sudah mengenal yang nama Warung Internet. Semakin seringlah mengoperasikan komputer (main ke warnet) dan akhirnya pas awal kelas 3 SMA kenal yang namanya Blog.

Semenjak itu tambah sering lagi ke warnet, bahkan kalau pulang sekolah sering njujug Warnet buat otak atik blog. Temen-temen lain juga sih, tapi mereka buat pacaran. Sejak itulah saya seakan menemukan hobi saya yang sesungguhnya, menulis di blog. Dan alhamdulillah masih konsisten hingga sekarang dan malah saat ini bisa jadi salah satu penghasilan utama.

Ini berawal dari ketertarikan saya soal komputer.

Jurusan Ilmu Komunikasi, kalau pilihan ini sebenarnya hanya ingin nanti ketika lulus bisa jadi jurnalis. Kayaknya seru gitu. Kalau waktu itu lihat sosok jurnalis itu keren. Tetapi yang membuat saya ragu untuk memilih jurusan ini adalah saya itu orangnya pendiam. Belum apa-apa dulu sudah mikir nanti kalau jadi Jurnalis terus wawancara narasumber gimana kalau akunya pendiem. wkwkwk.

Maklum, pikirannya masih cupu. Tapi tetap ini jadi opsi lain pemilihan jurusan.

Jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual), nah kalau jurusan ini karena saya ingin bisa desain-desain. Tapi sejujurnya saya masih kurang paham soal jurusan ini waktu itu. Yang ada di benak saya adalah nanti bikin desain-desain pakai komputer. Pokoknya yang ada hubungannya sama komputer, rasanya keren dan bikin aku suka. :D

Tapi yang jadi keraguan adalah saya itu tidak punya bakat gambar.

Nah akhirnya setelah mencoba memikirkan dan menimbang, saya putuskan memilih jurusan Teknik Informatika saja. Yang mana kadar ketertarikannya lebih banyak yang ini, dan waktu itu memang dapat referensi soal background jurusan ini dari orang-orang sekitar. Misalnya orang tua yang menceritakan rekannya yang seorang programmer, bisa bikin program keren. Itu juga yang bikin saya tambah mantap.

Meskipun saya waktu itu masih belum punya komputer, tapi saya yakin nanti bisa melakukannya.

Jurusan Teknik Informatika pun saya ambil di sebuah Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer (STMIK) di Kota Solo. Saya ambil jenjang D3, karena saya ingin cepat selesai saja. Jujur, waktu itu saya tidak mikir untuk mendapatkan gelar Sarjana. Bagi saya sama saja, yang penting punya ketrampilan.

Ilmu Baru di Jurusan TI

Karena saya sebelumnya memang tidak punya komputer di rumah, dan megang komputer itu kalau pas di warnet saja, jadinya agak bingung kalau nanti sudah masuk perkuliahan. Tetapi alhamdulillah tidak lama setelah masuk kuliah saya punya laptop yang bisa digunakan untuk belajar dan tentunya bikin-bikin tugas.

Owh ya, di STMIK ini kan ada beberapa jurusan kuliah ya sebenarnya, ada Sistem Informasi, Manajemen Informatika, Komputer Akuntansi dan Teknik Informatika. Dan saya pilih TI itu ya karena di jenjang D3 hanya ada TI, MI, dan KA. Karena waktu itu saya ingin lebih fokus ke tekniknya, jadi ya pilih TI.

Dan cita-cita saya ketika nanti lulus itu adalah menjadi Programmer. Itu sudah saya pengeni semenjak masuk awal kuliah. Tapi ya masih keinginan yang belum dengan alasan yang kuat. Karena pengetahuan waktu itu Programmer itu bisa bikin program. Udah itu aja.

Tetapi setelah proses perkuliahan berjalan dan banyak ketemu dosen-dosen, akhirnya saya sadar bahwa saya tidak salah mengambil jurusan ini. Dan saat ini saya juga sadar kalau sebenarnya jurusan TI inilah yang mengubah mindset saya selama ini.

Apa yang saya dapatkan selama kuliah sangat mempengaruhi banyak keputusan-keputusan penting di dalam hidup saya. Salah satunya adalah yang tidak diketahui banyak orang adalah ketika saya memutuskan untuk tidak ...........tiittttttttttttttt................. (nanti deh tak ceritain soal ini :D ) Atau japri aja kalau pengen tahu, soalnya belum bisa aku tulis secara terbuka.

Lalu apa hal-hal atau penyebab yang membuat pola pikir saya berubah?

Salah satunya adalah pengaruh dari dosen. Waktu awal-awal kuliah kan biasanya dosen sedikit memberikan motivasi dulu, sudut pandang soal jurusan ini dan sebagai mahasiswa itu harus bagaimana.

Nah saya sendiri tidak hanya sekali menemui dosen yang memberikan seperti itu. Dan poin yang menurut saya paling mempengaruhi itu adalah ketika dosen mengatakan kalau ketika belajar di jurusan TI itu pola pikirnya jangan hanya menjadi pengguna saja, tetapi cobalah berpikir bagaimana membuat.

Intinya seperti itu.

Dan waktu itu saya sangat setuju sekali, seakan kalimat itu langsung merasuk ke pikiran saya dan semakin memantapkan diri saya kalau nanti di masa depan, saya harus bisa membuat sesuatu. Ya minimal jangan hanya jadi pengguna saja, soalnya punya kemampuan untuk membuat.

Kalimat itulah yang akhirnya membuat pola pikir saya berubah dan selalu menjadi pengaruh di beberapa keputusan hidup saya. Selain keputusan yang disensor di atas, juga banyak keputusan-keputusan lain baik saat kuliah maupun paska kuliah.

Kalau waktu kuliah, salah satunya adalah ketika memutuskan untuk mengikuti sebuah event atau organisasi. Misalnya saja adalah mengikuti kepanitian ospek mahasiswa. Dulu saya pernah jadi peserta, maka sekarang waktunya jadi panitia. Ini keputusan sederhana, tetapi sebenarnya di latar belakangi oleh mindset itu.

Peserta STC
Zaman jadi peserta STC Tahun 2009
Panitia STC
Zaman jadi panitia STC Tahun 2010

Sedangkan paska kuliah adalah keputusan bekerja.

Selama kuliah terutama ketika menjelang semester akhirnya, saya sudah punya niatan atau ambisi kalau nanti harus bisa bekerja secara mandiri. Jangan ketika lulus terus menjadi pegawai saja, tetapi ciptakan pekerjaan atau minimal ya bisa bekerja secara mandiri.

Itulah yang saat ini sudah saya lakukan, karena saat ini saya pun juga bisa bekerja secara mandiri. Tetapi bukan berarti saya tidak suka menjadi pegawai atau memandang buruk profesi pegawai ya. Wong saya juga pernah bekerja di perusahaan.

Tapi memang jiwa-jiwa entrepreneurship itu tumbuh selama masa kuliah. Masa kuliah itu yang menumbuhkan pola pikir baru saya.

Dari sini saya jadi sadar bahwa kuliah itu sebenarnya bukan untuk mencari ilmu saja, atau bahkan mencari gelar. Tetapi kuliah adalah proses pendewasaan pikiran dan mengembangkan diri agar bisa menemukan cara atau jalan yang sesuai dengan diri kita masing-masing.

Ilmu yang kita perolah selama kuliah itu adalah bekal untuk kita bisa survive di masa yang akan datang. Mengandalkan ilmu saja tidak bisa, karena kita juga butuh kemampuan-kemampuan yang di luar bidang kita.

Waktu itu beberapa dosen pun juga pernah mengatakan, kalau kuliah itu jangan sekadar kuliah, tetapi ikutlah organisasi atau kegiatan-kegiatan di kampus. Cari ilmu di luar. Bahkan ilmu yang ilmu yang diperoleh di kampus itu tidak lebih dari 50%, sisanya harus cari di luar. Perkuliahan itu hanya sebagai pintu atau sarana saja, selebihnya tergantung masing-masing mahasiswa bagaimana menyikapi perkuliahan itu.

Panitia Seminar CIT
Zaman jadi panitia Seminar
Saya percaya, inilah jalan saya. Mulai dari menentukan jurusan kuliah, kampus dan bagaimana saya menghadapi semua yang ada waktu itu. Sebuah proses itu baru kita sadari kalau kita sudah melaluinya, dan saya percaya itu proses yang terbaik untuk saya. Meskipun ada hal yang positif maupun negatif, itulah proses.

Dengan memilih jurusan TI ini pun akhirnya saya juga tetap bisa mencoba menggapai mimpi saya yang lain jika memilih jurusan Ilmu Komunikasi akhirnya saya bisa merasakan menjadi seorang Jurnalis. Ya meskipun bukan jurnalis beneran tetapi Jurnalis Warga dan malah bisa memiliki media jurnalisme warga. Sedangakn untuk jurusan DKV, meskipun diperkuliahan sama sekali tidak diajarkan soal desain, akhirnya saya bisa otodidak belajar desain meskipun tidak jago-jago amat. Tapi paling tidak pernah ada hasil dari keterampilan ini. 

Orang lain mungkin boleh menilai salah tetapi saya yang menjalaninya tahu apa yang terbaik untuk saya sendiri. Semoga Gusti Allah meridhoi segala keputusan ini.

Tak terasa sudah sangat panjang sekali tulisah ini sodara-sodara, daripada Anda jadi eneg lebih baik saya sudahi saja. Pastinya masih ada hal-hal lain yang ingin saya ceritakan, tetapi akan lebih baik jika dilanjutkan di tulisan-tulisan berikutnya saja.

Sekali lagi, di tulisan ini ada hal baik dan buruknya. Kalau ada yang baik silakan diambil, kalau ada yang buruk (pasti ada) janganlah dicontoh. Saya bukanlah manusia sempurna, saya juga seperti Anda, hanya beda cerita saja. :) 

27 September 2018

Mewujudkan Blogger Charity

Beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2013, saya sempat ingin membuat sebuah program sederhana yang melibatkan blogger-blogger di Indonesia, dulu dikasih nama IdBloggerCare. Program itu berbasis charity, dimana nanti mengajak blogger-blogger untuk berpartisipasi dengan membuat blog yang dikelola bersama.

Blogger Charity

Akan tetapi blog tersebut tidak hanya sekadar untuk berbagi informasi saja, tetapi juga di-monetize supaya ada hasilnya. Hasil dari blog ini pun tidak akan digunakan oleh blogger-blogger yang ada di dalamnya, tetapi digunakan untuk kegiatan amal.

Sayangnya, keinginan itu sempat tertunda karena memang belum adanya SDM yang bisa benar-benar diajak untuk membangun bersama.

Agak susah memang menggerakan orang jika tidak ada hasilnya untuk diri sendiri.

Keinginan itu terus terpendam di dalam diri saya. Ingin rasanya mewujudkan kembali, tetapi kadang saya tidak PD. Saya itu siapa? Apa ada yang mau gabung? Nanti kalau tidak jalan gimana?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang membuat saya akhirnya tidak bergegas untuk mewujudkannya. Apalagi ini gerakan sukarela, yang kadang bersemangat gabung hanya di awal, tapi setelah berjalan beberapa waktu, hanya kepasifan. Pikiran-pikiran seperti ini juga yang kadang membuat saya enggan menghidupkan kembali.

Tapi di bulan September 2018 ini akhirnya semangat untuk mewujudkan ini kembali muncul. Kali ini saya lebih terbuka, tidak lagi memikirkan pertanyaan-pertanyaan konyol yang malah menghambat mimpi saya.

Apalagi saat buka YouTube ada video seorang YouTuber yang menghapus channel YouTube nya kemudian 'dihibahkan' ke sebuah yayasan kemanusiaan.

Saya pun semakin terpicu untuk membuat hal sama melalui media yang saya suka, blog.

Akhirnya program yang dulu sempat ada, saya munculkan kembali dengan konsep yang sama. Mengajak blogger-blogger Indonesia untuk membuat blog, yang dimonetize, dan dikelola bersama. Hasilnya 100% akan digunakan untuk charity.

Kali ini saya tidak akan memikirkan tentang diri saya, tidak akan memikirkan nanti siapa saja yang mau bergabung, nanti ke depannya bagaimana, dll. Yang ada dibenak saya hanya ingin mewujudkan ini dengan segala keterbatasan yang saya miliki.

Dan saya yakin bahwa ini adalah kegiatan positif, dan pasti akan banyak orang-orang baik di luar sana yang juga akan mendukung.

Di hari Selasa, 25 September 2018 malam,  akhirnya saya coba share kembali ide program ini ke media sosial. Saya tidak akan terlalu berharap banyak atau tidak yang ingin bergabung, fokus saya hanya mengajak.

Dan akhirnya melalui form pendaftaran, ada beberapa yang sudah bergabung. Ketika tulisan ini diterbitkan, sudah ada 16 blogger. Saya sangat berterima kasih dan apresiasi untuk kalian semua.

Berapapun yang ikut bergabung akan saya syukuri. Yang penting program ini dimudahkan dan dilancarkan kedepannya.

Kemarin malam pun saya coba kirim penawaran kerja sama ke beberapa provider hosting di Indonesia, dan alhamdulillah ada satu provider yang cepat merespon dan menyanggupi kerja sama untuk menjadi sponsor program ini. Yakni CloudKilat yang bersedia memberikan sponsorship berupa VPS Kilat VM 2.0 dan Domain selama 1 tahun.

Terima kasih untuk Mas Bachtiar, Mbak Retta dan seluruh tim CloudKilat.

Saat ini program tengah kami bahas bersama blogger-blogger yang sudah bergabung. Semoga program ini bisa segera mengudara dan semakin banyak yang ingin berpartisipasi di dalamnya.

Tentunya saya terus ingin mengajak kepada teman-teman blogger di Indonesia atau maupun yang lagi di luar negeri, jika tertarik untuk bergabung, silakan langsung daftarkan diri kamu di sini http://bit.ly/bloggercharity

Saat ini memang yang paling dibutuhkan adalah Tim Content. Karena saya menyadari tidak mungkin tiap blogger akan bisa menulis setiap hari. Dengan banyaknya blogger yang bergabung, tentu akan semakin ringan dalam hal distribusi konten artikel.

Tapi jika teman-teman ada yang jago SEO, marketing buat bantu nyari klien, dll bisa join juga.

Terakhirnya, adanya program ini semata-mata bukan hanya ditujukan untuk charity saja, tetapi juga untuk menambah konten positif di internet. Dan yang tak boleh dikesampingkan juga adalah agar semakin mempererat hubungan antar blogger.

Kita tahu sekarang ini komunitas-komunitas blogger sudah semakin punah. Semoga dengan adanya ini nanti bisa membuat semangat komunitas-komunitas blogger khususnya per daerah bisa tumbuh kembali.

Sebelumnya terima kasih kepada yang sudah berkenan bergabung. Semoga ini menjadi amal kebaikan untuk kita semua.

09 January 2018

Review Layanan SAKPOLE di Samsat Klaten

Hari ini, Selasa (09/01/2018) saya mencoba layanan pembayaran pajak kendaraan secara online yaitu SAKPOLE. Layanan SAKPOLE (Sistem Administrasi Kendaraan Pajak Online) ini berbasis aplikasi di smartphone. Dan ini pengalaman pertama saya menggunakan layanan SAKPOLE. Sebelumnya saya jika melakukan pembayaran pajak kendaraan, melalui Samsat Keliling atau datang ke Samsat Klaten langsung.

Terakhir kali melakukan pembayaran pajak kendaraan tahunan adalah datang langsung ke Samsat Klaten dan antri di loket lantai bawah, layanan Samsat Online. Waktu itu prosesnya cukup cepat, kurang dari 15 menit, karena yang antri sedikit.

Nah, hari ini akhirnya saya mencoba layanan SAKPOLE ini. Selain ingin melihat fitur dari aplikasi SAKPOLE juga ingin melihat bagaimana persiapan atau proses penggunaan SAKPOLE di Samsat Klaten.

SAKPOLE

Tentang SAKPOLE

SAKPOLE atau Sistem Administrasi Kendaraan Pajak Online adalah adalah layanan jaringan elektronik yang diselenggarakan oleh Tim Pembina Samsat Provinsi Jawa Tengah, berdasarkan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia guna pelayanan SAMSAT secara online (e-SAMSAT) yang dapat dilakukan secara nasional dimanapun dan kapanpun melalui aplikasi layanan perangkat komunikasi mobile (Handphone).

Pemberlakuan wilayah administrasi dan hukum SAKPOLE adalah lingkup pelayanan wajib pajak/pemilik atas kendaraan bermotor yang terdaftar di Provinsi Jawa Tengah. SAKPOLE digunakan hanya untuk melayani Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor tahunan, SWDKLLJ dan PNBP Pengesahan STNK atas kepemilikan kendaraan bermotor dengan nama pribadi (perseorangan), dengan keterlambatan maksimal 10 Bulan sejak masa pajak berkahir.

Wajib Pajak yang memanfaatkan layanan SAKPOLE, pada akhir proses pendaftaran akan mendapatkan Kode Bayar yang digunakan untuk melakukan proses pembayaran melalui layanan e-Channel perbankan (transfer, teller, e-Banking atau ATM). Adapun perbankan yang bekerja sama dengan layanan SAKPOLE adalah Bank Jateng dan Bank BNI. Meskipun demikian untuk wajib pajak yang bukan nasabah ke dua bank tersebut, tetap bisa menggunakan layanan SAKPOLE dan bisa melakukan pembayaran melalui fasilitas perbankkan dari bank manapun.

Bagi wajib pajak yang sudah mendapatkan kode bayar dari aplikasi SAKPOLE dapat langsung melakukan pembayaran melalui e-Channel perbankan, baik atas nama Wajib Pajak sendiri maupun atas nama orang lain.

Kode bayar berlaku selama 2 jam sejak diterbitkan. Apabila sampai dengan batas waktu pembayaran yang ditentukan dan Wajib Pajak belum melakukan pembayarna, maka kode bayar tidak berlaku lagi. Apabila tetap ingin melakukan pembayaran melalui aplikasi SAKPOLE, maka Wajib Pajak diharuskan melakukan proses pendaftaran kembali.

Tanda bukti bayar (e-SKPD) dapat didownload melalui aplikasi SAKPOLE dan berlaku selama maksimal 14 hari terhitung mulai dilakukan pembayaran. Dalam jangka waktu tersebut, WAJIB ditukar dengan SKPD asli dan dilakukan pengesahan STNK. STNK yang tidak dilakukan pengesahan dan tanda bukti bayar (e-SKPD) yang telah melebihi batas waktu yang telah ditentukan, maka tidak memiliki legitimasi operasional Ranmor dijalan.

- dikutip dari deskripsi SAKPOLE Google Play Store

Proses pendaftaran melalui Aplikasi SAKPOLE

Langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan pendaftaran melalui aplikasi SAKPOLE. Melalui menu Pendaftaran, saya diminta mengisi No. Polisi kendaraan, NIK, 5 digit terakhir No. Rangka. Kemudian klik Daftar.

SAKPOLE


Dari situ akan muncul informasi detail biaya yang harus dibayar.

Kemudian untuk proses pembayaran, awalnya saya pilih opsi pertama, yaitu Multi Payment. Dan saya pun mendapatkan 18 digit kode bayar. Langsung saja saya buka Mobile Banking BNI dan melakukan pembayaran dengan memilih menu Pembayaran > SAMSAT NASIONAL di mbanking BNI, tetapi gagal terus.

Coba untuk melalui Transfer Bank juga gagal. Alhasil saya menghubungi PIC SAKPOLE, dan direkomendasikan memilih opsi pembayaran kedua, yaitu Transfer Bank/Virtual Account.

Karena saya akan melakukan pembayaran pajak untuk dua kendaraan sekaligus, motor yang satunya saya daftarkan dan pilih opsi pembayaran kedua tersebut. Dapatlah kode bayar yang berjumlah 16 digit.

Kemudian saya buka mbanking BNI saya dan pilih Transfer Bank. Nomor rekening tujuan saja masukkan 16 digit kode bayar tersebut, dan akhirnya bisa. Nah, untuk STNK yang pertama tadi, saya harus menunggu 2 jam dulu supaya bisa dilakukan pendaftaran ulang melalui SAKPOLE.

Bayar selesai, saya kemudian mengunduh tanda bukti sementara (e-TBPKB) melalui menu Bukti Bayar di aplikasi SAKPOLE. Akhirnya e-TBPKB sudah diunduh dan saya cetak.

Ke Samsat Klaten

Owh ya, pendaftaran lewat SAKPOLE itu saya lakukan pada Hari Senin, 08 Januari 2018 dan saya ke Samsat Klaten pada Selasa, 09 Januari 2018.

Saya ke Samsat Klaten membawa dokumen :
  • STNK Asli
  • KTP Asli
  • Tanda Bukti Sementara / e-TBPKB yang sudah dicetak
  • Bukti Transfer pembayaran (ini buat jaga-jaga saja, kalau dibutuhkan)
Sampai kantor UPPD Kab. Klaten (Samsat Klaten), saya langsung menuju ke lantai 2. Karena terakhir ke situ saya melihat ada loket yang bertuliskan SAKPOLE. Waktu menanyakan ke petugas yang ada di loket itu kalau saya mau memproses perpanjangan STNK lewat SAKPOLE, eh kata petugasnya langsung disuruh ke belakang.

Saya agak bingung, belakang itu mana? Akhinya saya menuju ke loket/petugas paling ujung kanan untuk menanyakan lagi, dan ternyata suruh masuk ke dalam menemui Pak Sugeng, lewat pintu samping.

Masuklah saya ke situ, dan ternyata ke ruangan kerjanya para petugas. :D Ini pertama kalinya saya melihat ruangan kerja petugas Samsat Klaten yang sedang mendaftar perpanjangan STNK dan mencetak STNK nya.

Ruangannya persis di belakang petugas Samsat yang di loket depan. Dari jadi agak istimewa, karena langsung lewat pintu belakang secara legal. :D

Sampai ruangan, saya tanya bapak-bapak petugas mau proses perpanjangan STNK dari SAKPOLE, dan ingin menemui Pak Sugeng. Akhirnya saya disuruh ke meja Pak Sugeng. Saat ini tempat ini, saya lihat jam dan menunjukkan pukul 10.22 WIB.

Pak Sugeng pun menyambut saya dengan ramah, dan menanyakan keperluan. Setelah saya jelaskan, akhirnya dokumen STNK, KTP, e-TBPKB saya serahkan ke beliau. Setelah beliau cek, saya diminta menunggu sebentar, dan Pak Sugeng menyerahkan dokumen itu ke petugas di dekat meja kerjanya.

Kalau yang saya lihat, petugas ini yang melakukan pencetakan STNK.

Di petugas yang ini, saya mesti menunggu beberapa menit, karena dokumen saya tidak langsung diproses. Karena ya mesti antri sama dokumen lain yang sudah menumpuk di meja petugas ini. Tetapi waktu itu yang menggunakan SAKPOLE cuma saya aja. Di ruangan itu hanya ada saya (wajib pajak).

Pak Sugeng pun sempat melihat dokumen saya tersebut, sudah diproses apa belum. Karena belum, beliau mengatakan kepada saya dengan ramah untuk menunggu dulu, karena antri. Nah di sini ada yang agak lucu, saat petugas yang mencetak STNK ini ingin menginputkan Kode Bayar milik saya di aplikasinya, sempat muncul info Data tidak ditemukan. Saya melihat itu, karena saya duduk di belakangnya persis. Sempat berulang-ulang hingga menanyakan ke rekannya untuk mendekte nomor kode bayarnya. Tapi muncul data tidak ditemukan lagi.

Akhirnya bapak petugas ini menanyakan ke saya apa ada bukti transfer pembayarannya. Saya bilang ada, dan untungnya juga bawa, kemudian saya serahkan. Setelah diinput ulang dengan melihat kode bayar yang ada di bukti transfer, akhirnya bisa, datanya muncul. Mungkin tadi salah karena nomor Bukti Transfer di e-TBPKB tulisannya agak sulit dibaca.

Setelah itu STNK mulai dicetak. Setelah dicetak, kemudian diserahkan ke Pak Sugeng lagi. Sepertinya untuk dilakukan pengesahan. Pak Sugeng pun menyuruh rekannya untuk memfotokopi dokumen-dokumen tersebut. Proses fotokopi ini agak lama, ya mungkin antri.

Karena merasa agak lama, Pak Sugeng beberapa kali meminta maaf ke saya untuk menunggu sebentar karena masih difotokopi. Dan beliau pun juga menanyakan ke petugas lain untuk mengecek rekan yang memfotokopi tadi apakah sudah selesai atau belum. Mungkin supaya tidak ingin 'lama' proses melalui SAKPOLE ini. hehehe.

Fotokopi selesai, dan saya diminta ke meja Pak Sugeng lagi. Saya pun diberi STNK yang sudah diperpanjang dan diminta mengeceknya lagi. Pak Sugeng memang ramah.

Nah, saat sembari mengecek, saya pun tanya-tanya ke Pak Sugeng.

"Yang pakai SAKPOLE belum banyak ya pak?"

Pak Sugeng pun mengiyakan. Karena ya memang seperti itu. Tapi Pak Sugeng malah mengatakan kalau lewat SAKPOLE malah dua kali kerja. Yaitu harus ke ATM dulu, kemudian ke Samsat.

Saya pun agak bingung. Dua kali kerja ini dalam arti malah memperlambat atau mempercepat ya?

Pak Sugeng kemudian menanyakan kepada saya, "Tadi ke ATM dulu kan?"

Saya jawab tidak. Karena saya bayarnya lewat mobile banking BNI yang ada di ponsel.

Karena sudah sesuai datanya, akhirnya saya pamit. Dan cek jam, menunjukan pukul 10.45 WIB.

Silakan dihitung sendiri berapa menit proses yang dibutuhkan untuk melayani saya ini.

Kesimpulan dan Saran

Saya mencoba aplikasi SAKPOLE untuk pembayaran pajak kendaraan ini adalah untuk melihat kinerja aplikasi dan sistem di Samsat Klaten sendiri. Dan berdasarkan pengalaman pertama saya tadi, akhirnya saya memberi kesimpulan bahwa :
  • Aplikasi SAKPOLE Efektif
Ya, dengan adanya aplikasi SAKPOLE ini sangat memudahkan wajib pajak untuk melakukan pembayaran pajak kendaraan tahunan. Dan sudah semestinya di era digital sekarang ini pembayaran dilakukan secara online dan mandiri seperti ini.

Namun, untuk metode pembayaran mungkin lebih diperjelas lagi. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa untuk pilihan MultiPayment yang dilakukan melalui mobile banking belum bisa. Sehingga ini membuat bingung wajib pajak.
  •  Samsat Klaten Belum Siap
Sebenarnya saya belum tahu bagaimana prosedur pemrosesan SAKPOLE di tiap-tiap Samsat. Apakah sudah ada SOP nya, seperti pembukaan loket SAKPOLE, atau memang seperti yang saya alami di Samsat Klaten tersebut.

Kalau saya lihat, Samsat Klaten ini belum siap dengan sistem layanan SAKPOLE. Mengapa saya katakan seperti itu? Karena wajib pajak harus ke ruang kerja langsung dan ini sangat tidak efektif apabila banyak wajib pajak yang menggunakan SAKPOLE. Maka ruang kerja petugas malah banyak antri wajib pajak.

Adanya loket bertuliskan SAKPOLE pun juga tidak ada fungsinya.

Masalah waktu juga menjadi kendala. Menurut informasi yang ada, jika lewat SAKPOLE bakal lebih cepat, prosesnya tidak sampai 10 menit. Ya, itu jika sistem pelayanan di masing-masing Samsat sudah sesuai prosedur. Tetapi faktanya adalah saya agak kecewa dengan pelayanan SAKPOLE di Samsat Klaten yang memakan waktu lebih dari 10 menit.

Baik, saya menghargai petugas yang ramah dan sudah bekerja. Tetapi jika SAKPOLE bertujuan untuk mempercepat proses dan waktu, maka ini yang harus dibenahi di Samsat Klaten. Perlu ada sistem pelayanan yang lebih baik lagi untuk menunjang layanan SAKPOLE ini.

Semoga pihak-pihak terkait dalam segera memperbaharui pelayanannya. Karena kalau SAKPOLE waktunya sudah di atas 10 menit, apa bedanya dengan langsung melakukan pembayaran di loket Samsat Online Klaten?

Sehingga adanya aplikasi SAKPOLE ini bisa benar-benar efektif dan jadi solusi.

Follow This Blog!