04 April 2016

Kelas Dua Yang Penuh Drama

Kelas Dua

Ini lagi hot-hot nya Ujian Nasional, aku malah jadi keinget dulu sewaktu ujian semesteran. Waktu itu pas masih SMP kelas 2.

Sebagai siswa yang punya kadar kepintaran pas-pasan, ranking ku pun juga pas-pasan. Selama SMP, ranking aku juga pas-pasan. Ya lumayan lah masih 10 besar dari jumlah siswa sekitar 40 siswa.

Kelas 1 Semester I aku dulu dapat peringkat 6,2 (yang dapat peringkat 6 ada dua siswa). Terus semester II aku dapat peringkat 6 lagi, kali ini cuma aku saja yang dapat peringkat 6.

Raport Kelas Satu

Nah tiba saatnya pas masuk kelas 2. Di sini aku harus meningkatkan belajar, soalnya di "Catatan untuk diperhatikan orang tua / wali siswa" raport semester II tertulis "Tingkatkan belajar".

Catatan Orang Tua

Entah apa yang membuat aku tidak bisa Ranking I, pahadal Bapak Ibu ku itu pengennya aku Ranking I, siapa sih orang tua yang anaknya pengen dapat juara.

Sayangnya aku kurang peka...

Jadi sekolah ya biasa-biasa saja. Waktu ujian pun aku kerap nirun kemana-mana, kadang pula sehari sebelum hari-H, aku sempatkan untuk bertapa. Menyendiri merobek-robek kertas menjadi berukuran mini, lalu menulisi dengan kisi-kisi. Setelah jadi, aku lipat dan kadang aku bentuk menyerupai kertas gulungan arisan. Nanti pas masuk kelas, tinggal aku pindahkan ke saku atas.

Ketika nulis kisi-kisi tersebut, aku harus hafal betul isinya dan lokasinya.

Aku dulu pasti membuatnya lebih dari satu gulungan. Dan masing-masing gulungan aku tempatkan di beda-beda saku. Nah, di sini aku harus hafal lokasinya. Kisi-kisi tentang rumus bangun ruang aku taruh di saku atas, tentang faktorial suku aljabar ada di saku celana kanan, tentang sistem persamaan linear dan variabel ada di saku kiri.

Posisi ini harus aku ingat, dan biasanya tiap gulungan kertas aku tandai dengan coretan. Biar memastikan saja kalau itu benar isinya.

Pas situasi aman terkendali, aku melancarkan aksi. Biasanya ketika guru pengawas lagi duduk di bangkunya atau pas lagi di depan pintu.

Di situ kadang aku mulai nervous.

Lha bagaimana tidak, aku itu dikenal sebagai anak yang alim, pendiam dan kalem. Lha basan pas ujian tingkahnya kayak gentho sekolah.

Tapi untung, kadang gulungan-gulungan yang menyerupai kertas arisan itu tembus semua. Tapi nampaknya Gusti Allah belum memberkahi kerja keras ku itu.

Iya, selalu saja hasil ujian ku tidak sempurna. Yah, memang hidup ini tak ada yang sempurna. Peringkat ku pun juga biasa-biasa saja.

Memasuki semester pertama, aku pun masih biasa-biasa saja. Meski nilai di kelas satu tak sempurna, aku tak ada rencana untuk memperbaikinya. Lha yo rak koyo gentho tow, padahal murid kalem itu biasanya tahu diri. Aku ndak...mungkin pada waktu itu terlalu polos. Tapi, ya ndak polos-polos banget ding, buktinya pada waktu itu aku pernah merasakan getaran-getaran asmara meski di pendem jero. Isih cilik...

Ujian Semester Pertama

Ujian maning...ujian maning. Tapi yang aku suka kalau ujian semesteran itu bisa ngobrol sama kakak tingkat. Iya, dulu itu sistem ujian ku dipisah. Jadi kelas 2 sebelahan sama kelas 3, gitulah. Lha aku itu sering dapat sandingan kakak tingkat yang lumayan cakep. Meski cakep, aku nggak mau manfaatin dia, aku manfaatin otaknya saja, buat bantuan ngerjain soal :)) Ini solusi kalau gulungan kertas tadi zonk semua.

Ternyata cakep saja bukan jaminan lur, kadang mereka pun juga nggak tau maksud soalnya. Alasan klasiknya adalah menjawab "Ah Lupa..."

Nah pas ujian semester I Kelas 2 ini aku seperti mendapatkan hidayah dari-Nya. Bener...

Dari biasanya kalau ujian aku sering lirik sana lirik sini, bikin japlakan dan gulungan. Di ujian kali ini aku tidak berbuat itu sama sekali.

Bahkan aku sempet dicuekin temen-temen karena pas dia panggil aku buat tanya jawaban, aku hanya diam dan fokus pada lembar soal.

Saat itu pun aku juga termasuk yang cepat keluar duluan. Biasanya kalaupun aku sudah selesai, pasti aku nunggu sampai bel bunyi, ya minimal sambil bantu temen kalau ada yang nanya ke aku.

Tapi pada waktu itu tidak sama sekali. Aku hanya fokus melihat di lembar soal dan jawaban, setelah selesai langsung cabut. Aku pun nggak yakin itu jawaban ku benar. Pokoke garap gitu ae.

Owh ya, waktu tepat pas ujian mata pelajaran matematika, sebenarnya aku tak ingin masuk. Karena simbah aku (Ibunya Bapak) meninggal dunia. Tapi gimana lagi, aku malah disuruh masuk sama orang tua ku, lagian cuma ujian jadi pulangnya cepet.

Nah, di sini aku juga kaget. Aku yang agak gagap dengan matematika, tiba-tiba saja bisa mengerjakannya. Padahal aku itu malamnya nggak belajar. Kan almarhumah simbah ku meninggalkan sore hari sebelumnya, otomatis pas malam nggak bisa belajar. Aku sempet heran kenapa kok bisa lancar dan tentunya nggak nirun apalagi buka japlakan.

Ujian semesteran selesai, waktunya tompo raport.

Aku terkejut, aku kaget, ora nyono ora ngiro, aku mendapatkan peringkat pertama, iya gaesss, aku Ranking 1, wow. Ya meskipun ranking 1 ketiga, karena pada waktu itu yang juara 1 ada tiga orang, dan aku yang ketiga. Tapi aku tetep tidak percaya diselingi bangga.

Kok iso gitu lho?

Peringkat Satu
P.K.K dapat nilai 9, mungkin karena rajin bikin gulungan kertas arisan
Waktu ngerjain aja aku nggak yakin sama dengan yang aku jawab, lha kok bisa peringkat 1.

Mungkin inilah yang dinamakan dengan pengorbanan.

Kita itu nggak tahu hasil dari apa yang kita lakukan. Yang kita tahu itu hanya proses, usaha, doa dan melakukannya dengan jujur. Aku yakin, Gusti Allah tidak tidur dan DIA lah yang memberikan hasilnya.

Memasuki semester kedua, tahu tidak berapa peringkat yang aku dapatkan? Ya benar, aku mendapatkan peringkat 8 sodara.... Menukik jauh, karena waktu itu aku kembali ke jalan yang tidak benar. Aku khilaf...

Peringkat 8

Pas kelas 3 pun semakin merana, di raport malah tidak dapat peringkat, cuma di strip saja. Serius...

Tapi ya inilah aku, pria pas-pasan tapi tak melasan. Aku tetap mensyukuri apa yang aku dapatkan.

Semoga adik-adik yang masih sekolah jangan meniru tingkah laku ku ini. Cukup tiru saja tingkah ku di semester pertama kelas 2 ini. Fokus dan Jujur, serahkan hasilnya pada Yang Maha Kuasa, itu...
Matur suwun,
ttd
Virmansyah,

3 comments:

  1. Kelas dua SMA aku paling seru *maaf komennya aku malah info yang gak penting :D

    ReplyDelete
  2. kalau saya, zaman SMP masih baik-baik aja. Pas SMA baru mulai turun naik. Bahkan nilai Matematika di NEM saya dapat 2. Parah hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, wajar ya kalau matematika dapat 2 :D

      Delete

Follow This Blog!