09 January 2018

Review Layanan SAKPOLE di Samsat Klaten

Hari ini, Selasa (09/01/2018) saya mencoba layanan pembayaran pajak kendaraan secara online yaitu SAKPOLE. Layanan SAKPOLE (Sistem Administrasi Kendaraan Pajak Online) ini berbasis aplikasi di smartphone. Dan ini pengalaman pertama saya menggunakan layanan SAKPOLE. Sebelumnya saya jika melakukan pembayaran pajak kendaraan, melalui Samsat Keliling atau datang ke Samsat Klaten langsung.

Terakhir kali melakukan pembayaran pajak kendaraan tahunan adalah datang langsung ke Samsat Klaten dan antri di loket lantai bawah, layanan Samsat Online. Waktu itu prosesnya cukup cepat, kurang dari 15 menit, karena yang antri sedikit.

Nah, hari ini akhirnya saya mencoba layanan SAKPOLE ini. Selain ingin melihat fitur dari aplikasi SAKPOLE juga ingin melihat bagaimana persiapan atau proses penggunaan SAKPOLE di Samsat Klaten.

SAKPOLE

Tentang SAKPOLE

SAKPOLE atau Sistem Administrasi Kendaraan Pajak Online adalah adalah layanan jaringan elektronik yang diselenggarakan oleh Tim Pembina Samsat Provinsi Jawa Tengah, berdasarkan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia guna pelayanan SAMSAT secara online (e-SAMSAT) yang dapat dilakukan secara nasional dimanapun dan kapanpun melalui aplikasi layanan perangkat komunikasi mobile (Handphone).

Pemberlakuan wilayah administrasi dan hukum SAKPOLE adalah lingkup pelayanan wajib pajak/pemilik atas kendaraan bermotor yang terdaftar di Provinsi Jawa Tengah. SAKPOLE digunakan hanya untuk melayani Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor tahunan, SWDKLLJ dan PNBP Pengesahan STNK atas kepemilikan kendaraan bermotor dengan nama pribadi (perseorangan), dengan keterlambatan maksimal 10 Bulan sejak masa pajak berkahir.

Wajib Pajak yang memanfaatkan layanan SAKPOLE, pada akhir proses pendaftaran akan mendapatkan Kode Bayar yang digunakan untuk melakukan proses pembayaran melalui layanan e-Channel perbankan (transfer, teller, e-Banking atau ATM). Adapun perbankan yang bekerja sama dengan layanan SAKPOLE adalah Bank Jateng dan Bank BNI. Meskipun demikian untuk wajib pajak yang bukan nasabah ke dua bank tersebut, tetap bisa menggunakan layanan SAKPOLE dan bisa melakukan pembayaran melalui fasilitas perbankkan dari bank manapun.

Bagi wajib pajak yang sudah mendapatkan kode bayar dari aplikasi SAKPOLE dapat langsung melakukan pembayaran melalui e-Channel perbankan, baik atas nama Wajib Pajak sendiri maupun atas nama orang lain.

Kode bayar berlaku selama 2 jam sejak diterbitkan. Apabila sampai dengan batas waktu pembayaran yang ditentukan dan Wajib Pajak belum melakukan pembayarna, maka kode bayar tidak berlaku lagi. Apabila tetap ingin melakukan pembayaran melalui aplikasi SAKPOLE, maka Wajib Pajak diharuskan melakukan proses pendaftaran kembali.

Tanda bukti bayar (e-SKPD) dapat didownload melalui aplikasi SAKPOLE dan berlaku selama maksimal 14 hari terhitung mulai dilakukan pembayaran. Dalam jangka waktu tersebut, WAJIB ditukar dengan SKPD asli dan dilakukan pengesahan STNK. STNK yang tidak dilakukan pengesahan dan tanda bukti bayar (e-SKPD) yang telah melebihi batas waktu yang telah ditentukan, maka tidak memiliki legitimasi operasional Ranmor dijalan.

- dikutip dari deskripsi SAKPOLE Google Play Store

Proses pendaftaran melalui Aplikasi SAKPOLE

Langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan pendaftaran melalui aplikasi SAKPOLE. Melalui menu Pendaftaran, saya diminta mengisi No. Polisi kendaraan, NIK, 5 digit terakhir No. Rangka. Kemudian klik Daftar.

SAKPOLE


Dari situ akan muncul informasi detail biaya yang harus dibayar.

Kemudian untuk proses pembayaran, awalnya saya pilih opsi pertama, yaitu Multi Payment. Dan saya pun mendapatkan 18 digit kode bayar. Langsung saja saya buka Mobile Banking BNI dan melakukan pembayaran dengan memilih menu Pembayaran > SAMSAT NASIONAL di mbanking BNI, tetapi gagal terus.

Coba untuk melalui Transfer Bank juga gagal. Alhasil saya menghubungi PIC SAKPOLE, dan direkomendasikan memilih opsi pembayaran kedua, yaitu Transfer Bank/Virtual Account.

Karena saya akan melakukan pembayaran pajak untuk dua kendaraan sekaligus, motor yang satunya saya daftarkan dan pilih opsi pembayaran kedua tersebut. Dapatlah kode bayar yang berjumlah 16 digit.

Kemudian saya buka mbanking BNI saya dan pilih Transfer Bank. Nomor rekening tujuan saja masukkan 16 digit kode bayar tersebut, dan akhirnya bisa. Nah, untuk STNK yang pertama tadi, saya harus menunggu 2 jam dulu supaya bisa dilakukan pendaftaran ulang melalui SAKPOLE.

Bayar selesai, saya kemudian mengunduh tanda bukti sementara (e-TBPKB) melalui menu Bukti Bayar di aplikasi SAKPOLE. Akhirnya e-TBPKB sudah diunduh dan saya cetak.

Ke Samsat Klaten

Owh ya, pendaftaran lewat SAKPOLE itu saya lakukan pada Hari Senin, 08 Januari 2018 dan saya ke Samsat Klaten pada Selasa, 09 Januari 2018.

Saya ke Samsat Klaten membawa dokumen :
  • STNK Asli
  • KTP Asli
  • Tanda Bukti Sementara / e-TBPKB yang sudah dicetak
  • Bukti Transfer pembayaran (ini buat jaga-jaga saja, kalau dibutuhkan)
Sampai kantor UPPD Kab. Klaten (Samsat Klaten), saya langsung menuju ke lantai 2. Karena terakhir ke situ saya melihat ada loket yang bertuliskan SAKPOLE. Waktu menanyakan ke petugas yang ada di loket itu kalau saya mau memproses perpanjangan STNK lewat SAKPOLE, eh kata petugasnya langsung disuruh ke belakang.

Saya agak bingung, belakang itu mana? Akhinya saya menuju ke loket/petugas paling ujung kanan untuk menanyakan lagi, dan ternyata suruh masuk ke dalam menemui Pak Sugeng, lewat pintu samping.

Masuklah saya ke situ, dan ternyata ke ruangan kerjanya para petugas. :D Ini pertama kalinya saya melihat ruangan kerja petugas Samsat Klaten yang sedang mendaftar perpanjangan STNK dan mencetak STNK nya.

Ruangannya persis di belakang petugas Samsat yang di loket depan. Dari jadi agak istimewa, karena langsung lewat pintu belakang secara legal. :D

Sampai ruangan, saya tanya bapak-bapak petugas mau proses perpanjangan STNK dari SAKPOLE, dan ingin menemui Pak Sugeng. Akhirnya saya disuruh ke meja Pak Sugeng. Saat ini tempat ini, saya lihat jam dan menunjukkan pukul 10.22 WIB.

Pak Sugeng pun menyambut saya dengan ramah, dan menanyakan keperluan. Setelah saya jelaskan, akhirnya dokumen STNK, KTP, e-TBPKB saya serahkan ke beliau. Setelah beliau cek, saya diminta menunggu sebentar, dan Pak Sugeng menyerahkan dokumen itu ke petugas di dekat meja kerjanya.

Kalau yang saya lihat, petugas ini yang melakukan pencetakan STNK.

Di petugas yang ini, saya mesti menunggu beberapa menit, karena dokumen saya tidak langsung diproses. Karena ya mesti antri sama dokumen lain yang sudah menumpuk di meja petugas ini. Tetapi waktu itu yang menggunakan SAKPOLE cuma saya aja. Di ruangan itu hanya ada saya (wajib pajak).

Pak Sugeng pun sempat melihat dokumen saya tersebut, sudah diproses apa belum. Karena belum, beliau mengatakan kepada saya dengan ramah untuk menunggu dulu, karena antri. Nah di sini ada yang agak lucu, saat petugas yang mencetak STNK ini ingin menginputkan Kode Bayar milik saya di aplikasinya, sempat muncul info Data tidak ditemukan. Saya melihat itu, karena saya duduk di belakangnya persis. Sempat berulang-ulang hingga menanyakan ke rekannya untuk mendekte nomor kode bayarnya. Tapi muncul data tidak ditemukan lagi.

Akhirnya bapak petugas ini menanyakan ke saya apa ada bukti transfer pembayarannya. Saya bilang ada, dan untungnya juga bawa, kemudian saya serahkan. Setelah diinput ulang dengan melihat kode bayar yang ada di bukti transfer, akhirnya bisa, datanya muncul. Mungkin tadi salah karena nomor Bukti Transfer di e-TBPKB tulisannya agak sulit dibaca.

Setelah itu STNK mulai dicetak. Setelah dicetak, kemudian diserahkan ke Pak Sugeng lagi. Sepertinya untuk dilakukan pengesahan. Pak Sugeng pun menyuruh rekannya untuk memfotokopi dokumen-dokumen tersebut. Proses fotokopi ini agak lama, ya mungkin antri.

Karena merasa agak lama, Pak Sugeng beberapa kali meminta maaf ke saya untuk menunggu sebentar karena masih difotokopi. Dan beliau pun juga menanyakan ke petugas lain untuk mengecek rekan yang memfotokopi tadi apakah sudah selesai atau belum. Mungkin supaya tidak ingin 'lama' proses melalui SAKPOLE ini. hehehe.

Fotokopi selesai, dan saya diminta ke meja Pak Sugeng lagi. Saya pun diberi STNK yang sudah diperpanjang dan diminta mengeceknya lagi. Pak Sugeng memang ramah.

Nah, saat sembari mengecek, saya pun tanya-tanya ke Pak Sugeng.

"Yang pakai SAKPOLE belum banyak ya pak?"

Pak Sugeng pun mengiyakan. Karena ya memang seperti itu. Tapi Pak Sugeng malah mengatakan kalau lewat SAKPOLE malah dua kali kerja. Yaitu harus ke ATM dulu, kemudian ke Samsat.

Saya pun agak bingung. Dua kali kerja ini dalam arti malah memperlambat atau mempercepat ya?

Pak Sugeng kemudian menanyakan kepada saya, "Tadi ke ATM dulu kan?"

Saya jawab tidak. Karena saya bayarnya lewat mobile banking BNI yang ada di ponsel.

Karena sudah sesuai datanya, akhirnya saya pamit. Dan cek jam, menunjukan pukul 10.45 WIB.

Silakan dihitung sendiri berapa menit proses yang dibutuhkan untuk melayani saya ini.

Kesimpulan dan Saran

Saya mencoba aplikasi SAKPOLE untuk pembayaran pajak kendaraan ini adalah untuk melihat kinerja aplikasi dan sistem di Samsat Klaten sendiri. Dan berdasarkan pengalaman pertama saya tadi, akhirnya saya memberi kesimpulan bahwa :
  • Aplikasi SAKPOLE Efektif
Ya, dengan adanya aplikasi SAKPOLE ini sangat memudahkan wajib pajak untuk melakukan pembayaran pajak kendaraan tahunan. Dan sudah semestinya di era digital sekarang ini pembayaran dilakukan secara online dan mandiri seperti ini.

Namun, untuk metode pembayaran mungkin lebih diperjelas lagi. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa untuk pilihan MultiPayment yang dilakukan melalui mobile banking belum bisa. Sehingga ini membuat bingung wajib pajak.
  •  Samsat Klaten Belum Siap
Sebenarnya saya belum tahu bagaimana prosedur pemrosesan SAKPOLE di tiap-tiap Samsat. Apakah sudah ada SOP nya, seperti pembukaan loket SAKPOLE, atau memang seperti yang saya alami di Samsat Klaten tersebut.

Kalau saya lihat, Samsat Klaten ini belum siap dengan sistem layanan SAKPOLE. Mengapa saya katakan seperti itu? Karena wajib pajak harus ke ruang kerja langsung dan ini sangat tidak efektif apabila banyak wajib pajak yang menggunakan SAKPOLE. Maka ruang kerja petugas malah banyak antri wajib pajak.

Adanya loket bertuliskan SAKPOLE pun juga tidak ada fungsinya.

Masalah waktu juga menjadi kendala. Menurut informasi yang ada, jika lewat SAKPOLE bakal lebih cepat, prosesnya tidak sampai 10 menit. Ya, itu jika sistem pelayanan di masing-masing Samsat sudah sesuai prosedur. Tetapi faktanya adalah saya agak kecewa dengan pelayanan SAKPOLE di Samsat Klaten yang memakan waktu lebih dari 10 menit.

Baik, saya menghargai petugas yang ramah dan sudah bekerja. Tetapi jika SAKPOLE bertujuan untuk mempercepat proses dan waktu, maka ini yang harus dibenahi di Samsat Klaten. Perlu ada sistem pelayanan yang lebih baik lagi untuk menunjang layanan SAKPOLE ini.

Semoga pihak-pihak terkait dalam segera memperbaharui pelayanannya. Karena kalau SAKPOLE waktunya sudah di atas 10 menit, apa bedanya dengan langsung melakukan pembayaran di loket Samsat Online Klaten?

Sehingga adanya aplikasi SAKPOLE ini bisa benar-benar efektif dan jadi solusi.

24 September 2017

Dolan ke Tjokro Hotel Klaten Bersama Blogger Klaten - Solo - Jogja

Sabtu (23/9) kemarin saya berkesempatan mendatangi sebuah acara yang sebenarnya sudah lama saya tak mengikuti acara-acara semacam ini. Yaitu acara gathering blogger yang diselenggarakan oleh pihak lain.

Salah satu alasan saya lama yang mendatangi acara-acara seperti ini adalah masalah waktu yang tidak sesuai lagi. Apalagi lokasinya kalau tidak di Jogja ya di Solo.

Nah beberapa hari yang lalu itu saya mendapatkan informasi kalau salah satu hotel di Klaten, sebut saja Tjokro Hotel Klaten, mengundang 10 blogger untuk bergabung di acara Gathering Blogger with SAS Hospitality pada hari Sabtu 23 September 2017.

Informasi tersebut saya dapatkan dari Mak Indah, Emak-emak Blogger dari Jogja. Beliau menandai saya di status Facebook-nya. Melihat info itu, saya langsung coba share ke teman-teman blogger Klaten di grup WhatsApp barang kali ada yang berminat. Akhirnya hanya saya, Dony dan Endra yang mendaftar. Tapi naas, Endra, salah satu blogger Klaten yang cukup antusias ingin ikut, tidak bisa terpilih. Mungkin dia belum bejo. :D

Karena kali ini lokasinya di Klaten, dan mumpung saya lagi selo, akhirnya mencoba untuk mengikuti.

Kapan lagi ke Tjokro Hotel Klaten kalau tidak sekarang. Seumur-umur saya ke Tjokro Hotel ya baru kali ini. Dulu sih pernah di gedungnya, tapi pas masih jaman dipakai toko buku Gramedia dan Bank BCA.

Langsung Sarapan

Tjokro Resto Klaten

Karena ada lain suatu hal, saya terlambat 15 menit. Acaranya sendiri dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Masuk langsung tanya satpam dan disuruh ke resto untuk sarapan. Ya sudah, setelah nyalami teman-teman blogger lain yang sudah datang, saya lanjut ambil sarapan di Tjokro Restaurant. :D

Tjokro Restaurant


Di Tjokro Restaurant ini kemarin menyajikan masakan ala-ala hotel, tetapi kemarin pas khas masakan Jawa. Menurut informasi yang saya dapatkan sih menunya gonta-ganti, tidak hanya masakan khas Jawa saja, luar juga ada.

Blogger Sarapan
Bloger Yugo (kanan) tercyduk sedang sarapan bersama istri.

Acara kemarin sangat santai sekali. Diawali dengan sarapan bersama hingga pukul 9-nan. Agendanya ya sekadar ramah tamah dan mengenal Tjokro Hotel Klaten lebih jauh lagi.

Tjokro Hotel bagian dari SAS Hospitality

Jadi salah satu tujuan dari dolan kemarin adalah mengetahui tentang seluk beluk dari hotel ini. Yang mana baru saya ketahui kalau Tjokro Hotel itu saudaranya banyak dan hotel ini dikelola oleh sebuah perusahaan operator hotel bernama SAS Hospitality.

SAS Hospitality sendiri baru berdiri pada awal tahun 2017 yang berkantor di Bandung. Saat ini sudah mengelola 7 hotel yang ada di beberapa kota di Indonesia, seperti Klaten, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Pekanbaru dan Balikpapan.

Operator hotel yang satu ini memiliki 4 brand hotel, seperti yang saya sebutkan di atas kalau Tjokro Hotel punya saudara, yaitu Grand Tjokro Premiere (Bandung), Grand Tjokro (Yogyakarta, Jakarta, Balikpapan), Tjokro Hotel itu sendiri (Klaten, Pekanbaru) dan Tjokro Style (Yogyakarta). Masing-masing punya ciri khas berbeda.

Blusukan ke Kamar Tjokro Hotel Klaten

Selepas sarapan, kami diajak untuk melihat setiap sudut hotel, khususnya kamar-kamar yang ada di Tjokro Hotel Klaten. Di sebelah Tjokro Restaurant kemarin ada kids corner. Yang merupakan space untuk bermain anak. Meski tidak terlalu besar, tetapi sudah cukup untuk digunakan area bermain anak buat orang tua yang menginap bersama anaknya.

Kids Corner
Kids Corner - Tjokro Hotel Klaten


Masih di lantai yang sama (lantai paling bawah), atau di dekat kids corner ini ada beberapa ruangan yang ternyata ruang meeting room yang bisa dipesan dan digunakan untuk keperluan meeting dll. Yang unik adalah nama-nama ruangannya menggunakan nama-nama candi yang ada di sekitar Klaten. Seperti ruangan Sewu, Kalasan, Mendut dan Prambanan.

Meeting Room Tjokro Hotel Klaten


Untuk meeting room Mendut, Kalasan dan Sewu memiliki ukuran yang sama yakni 4 x 10 x 3 dan bisa menampung 30 orang dengan desain theater. Sedangkan Prambanan Hall punya ukuran 20 x 10 x 3, cukup besar untuk menampung orang dengan jumlah 250 orang model standing party.

Setelah melihat beberapa ruang pertemuan, kami lanjut ke lantai dua untuk melihat salah satu kamar paling istimewa di Tjokro Hotel Klaten, yakni kamar tipe Suite.

Kamar Tipe Suite di Tjokro Hotel Klaten
Tipe Suite


Di kamar ini memiliki dua bagian, ruang tamu sekaligus makan dan ruang tidur. Cukup besar memang, karena luasnya 61 meter persegi. Tipe kamar ini hanya ada 2 kamar.

Kemudian lanjut ke kamar tipe Deluxe. Kamar ini tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu sempit. Luasnya sih 26 meter persegi. Dan tipe kamar ini termasuk yang terbanyak di Tjokro Hotel Klaten, yakni total ada 28 kamar. Itu pun 5 diantaranya merupakan kamar dengan King Bed, sisanya Twin.

Kamar terakhir yang kami sambangi adalah kamar tipe Superior. Bisa dikatakan kamar ini termasuk kamar yang paling kecil di hotel ini. Cocok untuk para traveller yang pengen singgah ke Klaten. Total ada 24 kamar dengan jumlah King Bed 20 kamar, sisanya Twin.

Kesimpulan untuk kamar-kamarnya adalah bersih dan fasilitas lumayan lengkap.

Setelah muter-muter ke beberapa kamar, kami langsung ke ballroom utama dari hotel ini, yakni Borobudur Ballroom. Kalau ini mah luas banget, bisa menampung 700 orang dengan gaya standing, dan 350 orang dengan gaya theater. Biasanya ballroom ini digunakan untuk acara resepsi pernikahan, wisuda, atau acara-acara besar lainnya.

Borobudur Ballroom - Tjokro Hotel Klaten
Borobudur Ballroom - Tjokro Hotel Klaten
Abis itu, acara dilanjut kuis-kuis di Tjokro Restaurant. Sayang sekali saya tidak berhasil meraih satu voucher sekalipun. :D Maklum, yang lainnya modal ingatan dan catatan, saya cuma modal rekaman. Masa iya harus ndengerin rekaman dulu. :D Setelah itu acara ditutup dengan sajian penutup es krim Banana Split.

Blogger Hotel
Anaknya Mbak Prima Hapsari ikut acara kemarin

Blogger Hotel
Mbak Cindy Vania lagi mencoba peruntungan kuis dari pihak Tjokro Hotel Klaten
 Dan dilanjut dengan foto bersama. :) Semoga kapan-kapan bisa ngadain acara di Tjokro Hotel Klaten bersama bloger-bloger Klaten.

Tjokro Hotel Klaten | Hotel Bintang 3
Jl. Pemuda No.42, Klaten, Jawa Tengah
Telp. +62.272.333388
www.grandtjokroklaten.com

28 July 2017

Festival HIK Klaten Tidak Mencerminkan Citra 'HIK' Itu Sendiri

DISCLAIMER : Tulisan ini mengandung curhat pribadi dan kritikan bagi seluruh pihak, baik Pemerintah Kabupetan Klaten sebagai penyelenggara maupun masyarakat Klaten sebagai penikmat acara. Jadi, mohon disetel kendo.

Festival HIK Klaten

Saya bersyukur, Klaten masih punya event-event yang konon katanya ingin melestarikan potensi yang ada di Klaten. Salah satunya adalah Festival Wedangan/HIK yang diselenggarakan Kamis, 27 Juli 2017 mulai pukul 18.00 - 22.00 WIB di sepanjang Jl. Pemuda (Depan RSPD sampai depan Rumah Dinas Bupati).

Ini merupakan event tahunan dan sudah dua kali ini dilaksanakan (kalau tidak salah). Dan memang acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Klaten yang ke-213 di tahun 2017.

Secara kepanitian, Festival HIK diselenggarakan oleh Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Klaten. Ya wajar, karena HIK sendiri memang ada kaitannya dengan dinas ini.

Secara umum, saya sebagai coklat (cowo klaten) sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Pemerintah Kab. Klaten yang telah menyelenggarakan acara ini. Apalagi melibatkan pedagang-pedagang HIK di area Klaten yang saya belum tahu pasti ada berapa angkringan yang ada di acara tersebut.

Namun yang pasti menurut informasi yang saya peroleh, per angkringan mendapatkan subsidi dari pemerintah yang diambilkan dari APBD yakni sebesar Rp 750 ribu per angkringan. Jumlah angka yang cukup besar untuk sebuah angkringan. Tapi ya tidak tahu juga, apakah para pedagang yang ikut festival ini benar-benar menyediakan dagangannya dengan nominal Rp 750 ribu atau tidak. Itu bukan urusan saya.

Nah kalau kita berbicara HIK/Wedangan/Angkringan, sudah barang pasti di situ merupakan tempat yang nyamleng buat nge-gibah, rasan-rasan lan udud'an. Produk-produk khas Angkringan, seperti wedhang jahe, teh jahe, susu jahe, lan sak piturute, membuat penikmatnya betah berlama-lama di Angkringan. Saking betahnya, kadang lupa sama yang di rumah, yang sudah beristri pun kadang lupa kalau istrinya belum dijamah.

Saya rasa kalau yang sudah pernah ngangkring, akan tahu esensinya ngangkring. Meski ada orang baru di lingkar angkringan itu, tapi mereka bisa menyatu. Saling urun rembug hal-hal baru tanpa harus grusa-grusu.

Ojo Ndeso


Kembali ke Festival HIK Klaten ini, saya cukup kaget. Kalau kata orang jaman sekarang itu speechless. Tidak bisa berkata-kata, antara nggumun karo ngelus dodo.

Angkringan
Belum ada jam 19.00 WIB, beberapa angkringan sudah kukut.
Acara yang memang dibuka mulai pukul 18.00 WIB itu, sudah ludes sekitar pukul 18.30 WIB, ya anggap saja pukul 19.00 WIB lah biar agak lama. Dari sini saja saya heran, lhoh ini katanya Festival HIK/Wedangan, lha kok cepetmen!. Lha biasane nek di HIK itu bisa berjam-jam e. Biasane akeh ngomongo katimbang nyruput wedhang jahene. Malah kadang nganti lali nek wedhang jahene wes adem.

Lha iki????? Adoh soko esensi Wedangan/HIK.

Yang membuat ngelus dodo lagi adalah nafsu birahi masyarakat melihat HIK itu sendiri. Ha sak jane wong Klaten ki opo do urung tahu nang angkringan? Kok delok angkringan ngono we langsung digruduk.

Saya bukan mau menyalahkan masyarakat. Tapi mbok yao agak tertib. Bener semua makanan yang dihidangkan itu gratis, tapi apakah dengan kegratisan itu membuat kegragasan meningkat? Opo bener wong Klaten ora kuat ngangkring? Kan tidak...

Bahkan pasca acara saya coba baca-baca komen di Instagram, salah satunya postingan dari akun @KabarKlaten menyebutkan acara yang sudah digelar dua kali ini tidak ada perubahan sama sekali. Masyarakat pada rayahan, dan yang bikin kesal adalah sampah bertebaran di mana-mana.

Jelas di sini masyarakat perlu diberikan edukasi. Bukan sekedar untuk menyuruh datang ke sebuah event, tetapi bagaimana supaya masyarakat khususnya warga Klaten itu sendiri bisa menikmati acaranya sendiri. Ini itu kan acara buat masyarakat, buat kita-kita, jadi ya kita harus menikmatinya dengan cara yang sehat.

Di postingan itu juga ada komentar dari salah satu warga Klaten dengan akun @tommy.np, dia berkomentar, "Mau bakule angkringan ngarep toko laris ibu-ibu, wes do rayahan ra aturan, grobake meh sempal, hape ne ilang dicopet. Mesak ke tenan min, :'("

Festival HIK Klaten Rusuh


Nah, nek udah kayak gitu siapa coba yang mau tanggung jawab?
Haaayy, Goodnight warga klaten:33 Asyiiikk yaaa kalau kota kita ngadain acara-acara.. Tapi yaa jangan overover yaaa, jangan ngrasa soksokkan atau apalah yang kalian rasakan yang kalian ingin tunjukkan ke banyak orang. Are you human? Kalau kalian bener-bener manusia pasti punya rasa kemanusiaan dong yaaa kesesama manusia disekitar kita, belajar menghargai sesama manusia, belajar tertib, iyaaa memang HIK gratis tapi yaa setidaknya kalian tidak bikin rusuh.. Boleh deket ambil semaunya seperlunya aja soalnya bukan cuman buat kamu aja. Benerran miriiis bgt liat suasana ini, niatnya mau mengabadikan moment kedua ini karna taun lalu aku ketinggalan acara ini. Yang disekitar angkringan itu entah tempat siapa, mereka rusuh banget gerobak angkringan sampai patah sebelah, semua minumman tumpah.Alhasil, yang punya gerobak marah dan menyuruh semua pergi dan apa yang terjadi? Yang berada di sekitar angkringan malah melemparri bapak itu makanan yang sudah mereka ambil dari angkringan itu. Gilaaaaaakkkan?! Astagfirullaaaahh.. Apa yang mereka fikir cobaaaakk? #FestivalHIK #kabarklaten #klatenmiris @kabarklaten
A post shared by Azura Nuraliza (@azuranuraliza) on


Solusinya Gimana Bos? Ojo nyalah-nyalahke wae isohe!

Iki udu nyalahke bos, iki kritik. Nek gak dikritik, suk tahun ngarep yo muk ngene-ngene terus wae.

Solusinya menurut saya diawali dari penyelenggara itu sendiri. Penyelenggara yang punya wewenang, yang punya konsep dan bisa merubah situasi kondisi acara. Saya melihat waktu acara berlangsung, pihak penyelenggara tidak memiliki konsep yang baik. Nek punya konsep baik, nggak mungkin ada rayahan sego kucing, wedhang jahe, hape ono sing ilang, dll.

Acara Festival HIK ini kalau dari kacamata saya pribadi konsepnya cuma rayahan panganan, acara sambutan orang-orang besar, dangdutan, terus bar. Yang jadi inti malah acara sambutan sama dangdutan. Acara HIK malah nggak digagas matang-matang. Seharusnya angkringannya bisa bertahan sampai jam 22.00 WIB sesuai jadwal, tapi faktanya tidak. Bukan sekedar acara foto-foto pembukaan oleh orang-orang besar yang pada akhirnya dianggap masyarakat sebagai 'pencitraan'.

Dangdutan Festival HIK Klaten


Nek menurut saya, seharusnya pihak penyelenggara membuat konsep yang benar-benar menjadikan 'ruh' festival ini ada. Ini kan salah satu tujuannya untuk mengangkat HIK itu sendiri, jadi ya ada baiknya jika dalam penyelenggaraan itu ditata. Bukan sekedar menata angkringan satu per satu di sudut jalan, tetapi menata bagaimana acara festival ini bisa berlangsung dengan lancar, masyarakat bisa menikmati wedhangan, nyruput wedhang jahe, muluk sego kucing kanti nyamleng.

Jadi kalau mau buat acara yang melibatkan orang banyak itu ya harus ditata. Kalau sekedar mikirin apa yang ingin ditampilkan saja tanpa memperhitungkan siapa dan berapa yang akan datang, ya pada akhirnya seperti itu kejadiannya. Seharusnya sih penyelenggara sudah tahu soal ini. Tinggal mau tidak menata ke arah yang lebih baik.

Festival HIK Klaten
Antusias masyarakat sangat tinggi, konsep acara harus dimatangkan lagi
Misalnya saja dengan membuat area bebas pengunjung. Di mana area itu hanya berisi angkringan-angkringan yang digratiskan tadi. Nanti masyarakat untuk mendapatkan makanan gratis dari angkringan melalui kupon yang telah diberikan sebelumnya. Dalam memperoleh kupon itu pun bisa diadakan acara-acara printilannya. Intinya bagaimana memanajemen pengunjung supaya bisa tertib dan membuat nyaman aman bagi penjual wedhangannya.

Terus misal, di acara itu juga bisa diadakan semacam kuis-kuis atau apalah, yang intinya melibatkan masyarakat. Pemenangnya bisa mendapatkan jatah kursi ngangkring di area bebas pengunjung itu. Sehingga masyarakat pun bisa menikmati esensi ngangkring itu sendiri.

Karena kalau perubahan cuma diberikan ke masyarakat, itu sulit. Masyarakat itu kalau cuma disuruh besok harus tertib, jangan keroyokan pas ngambil, lantas pihak penyelenggara masih saja membuat konsep yang sama, ya hasilnya sama saja. Bola bali rayahan nganti ra kenduman.

Intinya seperti itu kritik yang ingin saya berikan. Tulisan ini saya buat atas dasar kepedulian saya dengan Klaten. Jujur saya senang kalau Klaten punya banyak acara-acara, apalagi yang mengangkat potensi lokalnya. Tapi mbok yao bapak-bapak ibu-ibu penyelenggara menatanya supaya 'ruh' dari acara itu benar-benar ada.

Akan lebih baik jika setiap acara-acara seperti ini melibatkan juga masyarakat dan anak muda. Sehingga bisa saling urun rembug, bagaimana baik dan buruknya. Sehingga sebuah acara yang mengangkat nama daerah bisa mencerminkan hal positif daerah itu.

Itu saja yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Harapan saya cuma satu, semoga tahun depan ada perubahan. Minimal tidak ada lagi rayahan panganan dan tolong dijaga kebersihan. Acara semacam ini bukan sekedar 'sing penting gayeng, katimbang ra ono acara'. Kuwi jenenge ngawur lur.... Matur suwun.

Follow This Blog!