24 September 2017

Dolan ke Tjokro Hotel Klaten Bersama Blogger Klaten - Solo - Jogja

Sabtu (23/9) kemarin saya berkesempatan mendatangi sebuah acara yang sebenarnya sudah lama saya tak mengikuti acara-acara semacam ini. Yaitu acara gathering blogger yang diselenggarakan oleh pihak lain.

Salah satu alasan saya lama yang mendatangi acara-acara seperti ini adalah masalah waktu yang tidak sesuai lagi. Apalagi lokasinya kalau tidak di Jogja ya di Solo.

Nah beberapa hari yang lalu itu saya mendapatkan informasi kalau salah satu hotel di Klaten, sebut saja Tjokro Hotel Klaten, mengundang 10 blogger untuk bergabung di acara Gathering Blogger with SAS Hospitality pada hari Sabtu 23 September 2017.

Informasi tersebut saya dapatkan dari Mak Indah, Emak-emak Blogger dari Jogja. Beliau menandai saya di status Facebook-nya. Melihat info itu, saya langsung coba share ke teman-teman blogger Klaten di grup WhatsApp barang kali ada yang berminat. Akhirnya hanya saya, Dony dan Endra yang mendaftar. Tapi naas, Endra, salah satu blogger Klaten yang cukup antusias ingin ikut, tidak bisa terpilih. Mungkin dia belum bejo. :D

Karena kali ini lokasinya di Klaten, dan mumpung saya lagi selo, akhirnya mencoba untuk mengikuti.

Kapan lagi ke Tjokro Hotel Klaten kalau tidak sekarang. Seumur-umur saya ke Tjokro Hotel ya baru kali ini. Dulu sih pernah di gedungnya, tapi pas masih jaman dipakai toko buku Gramedia dan Bank BCA.

Langsung Sarapan

Tjokro Resto Klaten

Karena ada lain suatu hal, saya terlambat 15 menit. Acaranya sendiri dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Masuk langsung tanya satpam dan disuruh ke resto untuk sarapan. Ya sudah, setelah nyalami teman-teman blogger lain yang sudah datang, saya lanjut ambil sarapan di Tjokro Restaurant. :D

Tjokro Restaurant


Di Tjokro Restaurant ini kemarin menyajikan masakan ala-ala hotel, tetapi kemarin pas khas masakan Jawa. Menurut informasi yang saya dapatkan sih menunya gonta-ganti, tidak hanya masakan khas Jawa saja, luar juga ada.

Blogger Sarapan
Bloger Yugo (kanan) tercyduk sedang sarapan bersama istri.

Acara kemarin sangat santai sekali. Diawali dengan sarapan bersama hingga pukul 9-nan. Agendanya ya sekadar ramah tamah dan mengenal Tjokro Hotel Klaten lebih jauh lagi.

Tjokro Hotel bagian dari SAS Hospitality

Jadi salah satu tujuan dari dolan kemarin adalah mengetahui tentang seluk beluk dari hotel ini. Yang mana baru saya ketahui kalau Tjokro Hotel itu saudaranya banyak dan hotel ini dikelola oleh sebuah perusahaan operator hotel bernama SAS Hospitality.

SAS Hospitality sendiri baru berdiri pada awal tahun 2017 yang berkantor di Bandung. Saat ini sudah mengelola 7 hotel yang ada di beberapa kota di Indonesia, seperti Klaten, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Pekanbaru dan Balikpapan.

Operator hotel yang satu ini memiliki 4 brand hotel, seperti yang saya sebutkan di atas kalau Tjokro Hotel punya saudara, yaitu Grand Tjokro Premiere (Bandung), Grand Tjokro (Yogyakarta, Jakarta, Balikpapan), Tjokro Hotel itu sendiri (Klaten, Pekanbaru) dan Tjokro Style (Yogyakarta). Masing-masing punya ciri khas berbeda.

Blusukan ke Kamar Tjokro Hotel Klaten

Selepas sarapan, kami diajak untuk melihat setiap sudut hotel, khususnya kamar-kamar yang ada di Tjokro Hotel Klaten. Di sebelah Tjokro Restaurant kemarin ada kids corner. Yang merupakan space untuk bermain anak. Meski tidak terlalu besar, tetapi sudah cukup untuk digunakan area bermain anak buat orang tua yang menginap bersama anaknya.

Kids Corner
Kids Corner - Tjokro Hotel Klaten


Masih di lantai yang sama (lantai paling bawah), atau di dekat kids corner ini ada beberapa ruangan yang ternyata ruang meeting room yang bisa dipesan dan digunakan untuk keperluan meeting dll. Yang unik adalah nama-nama ruangannya menggunakan nama-nama candi yang ada di sekitar Klaten. Seperti ruangan Sewu, Kalasan, Mendut dan Prambanan.

Meeting Room Tjokro Hotel Klaten


Untuk meeting room Mendut, Kalasan dan Sewu memiliki ukuran yang sama yakni 4 x 10 x 3 dan bisa menampung 30 orang dengan desain theater. Sedangkan Prambanan Hall punya ukuran 20 x 10 x 3, cukup besar untuk menampung orang dengan jumlah 250 orang model standing party.

Setelah melihat beberapa ruang pertemuan, kami lanjut ke lantai dua untuk melihat salah satu kamar paling istimewa di Tjokro Hotel Klaten, yakni kamar tipe Suite.

Kamar Tipe Suite di Tjokro Hotel Klaten
Tipe Suite


Di kamar ini memiliki dua bagian, ruang tamu sekaligus makan dan ruang tidur. Cukup besar memang, karena luasnya 61 meter persegi. Tipe kamar ini hanya ada 2 kamar.

Kemudian lanjut ke kamar tipe Deluxe. Kamar ini tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu sempit. Luasnya sih 26 meter persegi. Dan tipe kamar ini termasuk yang terbanyak di Tjokro Hotel Klaten, yakni total ada 28 kamar. Itu pun 5 diantaranya merupakan kamar dengan King Bed, sisanya Twin.

Kamar terakhir yang kami sambangi adalah kamar tipe Superior. Bisa dikatakan kamar ini termasuk kamar yang paling kecil di hotel ini. Cocok untuk para traveller yang pengen singgah ke Klaten. Total ada 24 kamar dengan jumlah King Bed 20 kamar, sisanya Twin.

Kesimpulan untuk kamar-kamarnya adalah bersih dan fasilitas lumayan lengkap.

Setelah muter-muter ke beberapa kamar, kami langsung ke ballroom utama dari hotel ini, yakni Borobudur Ballroom. Kalau ini mah luas banget, bisa menampung 700 orang dengan gaya standing, dan 350 orang dengan gaya theater. Biasanya ballroom ini digunakan untuk acara resepsi pernikahan, wisuda, atau acara-acara besar lainnya.

Borobudur Ballroom - Tjokro Hotel Klaten
Borobudur Ballroom - Tjokro Hotel Klaten
Abis itu, acara dilanjut kuis-kuis di Tjokro Restaurant. Sayang sekali saya tidak berhasil meraih satu voucher sekalipun. :D Maklum, yang lainnya modal ingatan dan catatan, saya cuma modal rekaman. Masa iya harus ndengerin rekaman dulu. :D Setelah itu acara ditutup dengan sajian penutup es krim Banana Split.

Blogger Hotel
Anaknya Mbak Prima Hapsari ikut acara kemarin

Blogger Hotel
Mbak Cindy Vania lagi mencoba peruntungan kuis dari pihak Tjokro Hotel Klaten
 Dan dilanjut dengan foto bersama. :) Semoga kapan-kapan bisa ngadain acara di Tjokro Hotel Klaten bersama bloger-bloger Klaten.

Tjokro Hotel Klaten | Hotel Bintang 3
Jl. Pemuda No.42, Klaten, Jawa Tengah
Telp. +62.272.333388
www.grandtjokroklaten.com

28 July 2017

Festival HIK Klaten Tidak Mencerminkan Citra 'HIK' Itu Sendiri

DISCLAIMER : Tulisan ini mengandung curhat pribadi dan kritikan bagi seluruh pihak, baik Pemerintah Kabupetan Klaten sebagai penyelenggara maupun masyarakat Klaten sebagai penikmat acara. Jadi, mohon disetel kendo.

Festival HIK Klaten

Saya bersyukur, Klaten masih punya event-event yang konon katanya ingin melestarikan potensi yang ada di Klaten. Salah satunya adalah Festival Wedangan/HIK yang diselenggarakan Kamis, 27 Juli 2017 mulai pukul 18.00 - 22.00 WIB di sepanjang Jl. Pemuda (Depan RSPD sampai depan Rumah Dinas Bupati).

Ini merupakan event tahunan dan sudah dua kali ini dilaksanakan (kalau tidak salah). Dan memang acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Klaten yang ke-213 di tahun 2017.

Secara kepanitian, Festival HIK diselenggarakan oleh Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Klaten. Ya wajar, karena HIK sendiri memang ada kaitannya dengan dinas ini.

Secara umum, saya sebagai coklat (cowo klaten) sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Pemerintah Kab. Klaten yang telah menyelenggarakan acara ini. Apalagi melibatkan pedagang-pedagang HIK di area Klaten yang saya belum tahu pasti ada berapa angkringan yang ada di acara tersebut.

Namun yang pasti menurut informasi yang saya peroleh, per angkringan mendapatkan subsidi dari pemerintah yang diambilkan dari APBD yakni sebesar Rp 750 ribu per angkringan. Jumlah angka yang cukup besar untuk sebuah angkringan. Tapi ya tidak tahu juga, apakah para pedagang yang ikut festival ini benar-benar menyediakan dagangannya dengan nominal Rp 750 ribu atau tidak. Itu bukan urusan saya.

Nah kalau kita berbicara HIK/Wedangan/Angkringan, sudah barang pasti di situ merupakan tempat yang nyamleng buat nge-gibah, rasan-rasan lan udud'an. Produk-produk khas Angkringan, seperti wedhang jahe, teh jahe, susu jahe, lan sak piturute, membuat penikmatnya betah berlama-lama di Angkringan. Saking betahnya, kadang lupa sama yang di rumah, yang sudah beristri pun kadang lupa kalau istrinya belum dijamah.

Saya rasa kalau yang sudah pernah ngangkring, akan tahu esensinya ngangkring. Meski ada orang baru di lingkar angkringan itu, tapi mereka bisa menyatu. Saling urun rembug hal-hal baru tanpa harus grusa-grusu.

Ojo Ndeso


Kembali ke Festival HIK Klaten ini, saya cukup kaget. Kalau kata orang jaman sekarang itu speechless. Tidak bisa berkata-kata, antara nggumun karo ngelus dodo.

Angkringan
Belum ada jam 19.00 WIB, beberapa angkringan sudah kukut.
Acara yang memang dibuka mulai pukul 18.00 WIB itu, sudah ludes sekitar pukul 18.30 WIB, ya anggap saja pukul 19.00 WIB lah biar agak lama. Dari sini saja saya heran, lhoh ini katanya Festival HIK/Wedangan, lha kok cepetmen!. Lha biasane nek di HIK itu bisa berjam-jam e. Biasane akeh ngomongo katimbang nyruput wedhang jahene. Malah kadang nganti lali nek wedhang jahene wes adem.

Lha iki????? Adoh soko esensi Wedangan/HIK.

Yang membuat ngelus dodo lagi adalah nafsu birahi masyarakat melihat HIK itu sendiri. Ha sak jane wong Klaten ki opo do urung tahu nang angkringan? Kok delok angkringan ngono we langsung digruduk.

Saya bukan mau menyalahkan masyarakat. Tapi mbok yao agak tertib. Bener semua makanan yang dihidangkan itu gratis, tapi apakah dengan kegratisan itu membuat kegragasan meningkat? Opo bener wong Klaten ora kuat ngangkring? Kan tidak...

Bahkan pasca acara saya coba baca-baca komen di Instagram, salah satunya postingan dari akun @KabarKlaten menyebutkan acara yang sudah digelar dua kali ini tidak ada perubahan sama sekali. Masyarakat pada rayahan, dan yang bikin kesal adalah sampah bertebaran di mana-mana.

Jelas di sini masyarakat perlu diberikan edukasi. Bukan sekedar untuk menyuruh datang ke sebuah event, tetapi bagaimana supaya masyarakat khususnya warga Klaten itu sendiri bisa menikmati acaranya sendiri. Ini itu kan acara buat masyarakat, buat kita-kita, jadi ya kita harus menikmatinya dengan cara yang sehat.

Di postingan itu juga ada komentar dari salah satu warga Klaten dengan akun @tommy.np, dia berkomentar, "Mau bakule angkringan ngarep toko laris ibu-ibu, wes do rayahan ra aturan, grobake meh sempal, hape ne ilang dicopet. Mesak ke tenan min, :'("

Festival HIK Klaten Rusuh


Nah, nek udah kayak gitu siapa coba yang mau tanggung jawab?
Haaayy, Goodnight warga klaten:33 Asyiiikk yaaa kalau kota kita ngadain acara-acara.. Tapi yaa jangan overover yaaa, jangan ngrasa soksokkan atau apalah yang kalian rasakan yang kalian ingin tunjukkan ke banyak orang. Are you human? Kalau kalian bener-bener manusia pasti punya rasa kemanusiaan dong yaaa kesesama manusia disekitar kita, belajar menghargai sesama manusia, belajar tertib, iyaaa memang HIK gratis tapi yaa setidaknya kalian tidak bikin rusuh.. Boleh deket ambil semaunya seperlunya aja soalnya bukan cuman buat kamu aja. Benerran miriiis bgt liat suasana ini, niatnya mau mengabadikan moment kedua ini karna taun lalu aku ketinggalan acara ini. Yang disekitar angkringan itu entah tempat siapa, mereka rusuh banget gerobak angkringan sampai patah sebelah, semua minumman tumpah.Alhasil, yang punya gerobak marah dan menyuruh semua pergi dan apa yang terjadi? Yang berada di sekitar angkringan malah melemparri bapak itu makanan yang sudah mereka ambil dari angkringan itu. Gilaaaaaakkkan?! Astagfirullaaaahh.. Apa yang mereka fikir cobaaaakk? #FestivalHIK #kabarklaten #klatenmiris @kabarklaten
A post shared by Azura Nuraliza (@azuranuraliza) on


Solusinya Gimana Bos? Ojo nyalah-nyalahke wae isohe!

Iki udu nyalahke bos, iki kritik. Nek gak dikritik, suk tahun ngarep yo muk ngene-ngene terus wae.

Solusinya menurut saya diawali dari penyelenggara itu sendiri. Penyelenggara yang punya wewenang, yang punya konsep dan bisa merubah situasi kondisi acara. Saya melihat waktu acara berlangsung, pihak penyelenggara tidak memiliki konsep yang baik. Nek punya konsep baik, nggak mungkin ada rayahan sego kucing, wedhang jahe, hape ono sing ilang, dll.

Acara Festival HIK ini kalau dari kacamata saya pribadi konsepnya cuma rayahan panganan, acara sambutan orang-orang besar, dangdutan, terus bar. Yang jadi inti malah acara sambutan sama dangdutan. Acara HIK malah nggak digagas matang-matang. Seharusnya angkringannya bisa bertahan sampai jam 22.00 WIB sesuai jadwal, tapi faktanya tidak. Bukan sekedar acara foto-foto pembukaan oleh orang-orang besar yang pada akhirnya dianggap masyarakat sebagai 'pencitraan'.

Dangdutan Festival HIK Klaten


Nek menurut saya, seharusnya pihak penyelenggara membuat konsep yang benar-benar menjadikan 'ruh' festival ini ada. Ini kan salah satu tujuannya untuk mengangkat HIK itu sendiri, jadi ya ada baiknya jika dalam penyelenggaraan itu ditata. Bukan sekedar menata angkringan satu per satu di sudut jalan, tetapi menata bagaimana acara festival ini bisa berlangsung dengan lancar, masyarakat bisa menikmati wedhangan, nyruput wedhang jahe, muluk sego kucing kanti nyamleng.

Jadi kalau mau buat acara yang melibatkan orang banyak itu ya harus ditata. Kalau sekedar mikirin apa yang ingin ditampilkan saja tanpa memperhitungkan siapa dan berapa yang akan datang, ya pada akhirnya seperti itu kejadiannya. Seharusnya sih penyelenggara sudah tahu soal ini. Tinggal mau tidak menata ke arah yang lebih baik.

Festival HIK Klaten
Antusias masyarakat sangat tinggi, konsep acara harus dimatangkan lagi
Misalnya saja dengan membuat area bebas pengunjung. Di mana area itu hanya berisi angkringan-angkringan yang digratiskan tadi. Nanti masyarakat untuk mendapatkan makanan gratis dari angkringan melalui kupon yang telah diberikan sebelumnya. Dalam memperoleh kupon itu pun bisa diadakan acara-acara printilannya. Intinya bagaimana memanajemen pengunjung supaya bisa tertib dan membuat nyaman aman bagi penjual wedhangannya.

Terus misal, di acara itu juga bisa diadakan semacam kuis-kuis atau apalah, yang intinya melibatkan masyarakat. Pemenangnya bisa mendapatkan jatah kursi ngangkring di area bebas pengunjung itu. Sehingga masyarakat pun bisa menikmati esensi ngangkring itu sendiri.

Karena kalau perubahan cuma diberikan ke masyarakat, itu sulit. Masyarakat itu kalau cuma disuruh besok harus tertib, jangan keroyokan pas ngambil, lantas pihak penyelenggara masih saja membuat konsep yang sama, ya hasilnya sama saja. Bola bali rayahan nganti ra kenduman.

Intinya seperti itu kritik yang ingin saya berikan. Tulisan ini saya buat atas dasar kepedulian saya dengan Klaten. Jujur saya senang kalau Klaten punya banyak acara-acara, apalagi yang mengangkat potensi lokalnya. Tapi mbok yao bapak-bapak ibu-ibu penyelenggara menatanya supaya 'ruh' dari acara itu benar-benar ada.

Akan lebih baik jika setiap acara-acara seperti ini melibatkan juga masyarakat dan anak muda. Sehingga bisa saling urun rembug, bagaimana baik dan buruknya. Sehingga sebuah acara yang mengangkat nama daerah bisa mencerminkan hal positif daerah itu.

Itu saja yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Harapan saya cuma satu, semoga tahun depan ada perubahan. Minimal tidak ada lagi rayahan panganan dan tolong dijaga kebersihan. Acara semacam ini bukan sekedar 'sing penting gayeng, katimbang ra ono acara'. Kuwi jenenge ngawur lur.... Matur suwun.

08 July 2017

Persepsi Wisata Klaten & Kopdar Blogger Klaten

Wisata Klaten

Sore tadi (8/7) selepas dari Bayat, rencana langsung mau ke Linchak Coffee buat ngumpul bareng blogger-blogger Klaten. Karena jam masih menunjukkan pukul 15.00 WIB, akhirnya saya mlipir dulu ke Rowo Jombor. Kebetulan pulangnya memang lewat rowo.

Buat yang belum tahu Rowo Jombor, tempat ini merupakan waduk yang letaknya di Dukuh Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kalau dari pusat kota sih sekitar 8 KM. Kurang lebih lho ya, lha wong saya nggak pernah meterin jalan.

Mungkin orang-orang lebih mengenal Waduk Rowo Jombor dengan nama Warung Apung. Ya karena di waduk ini ada warung apungnya dan itu yang bikin hitz di kalangan warga sipil dan non sipil termasuk netizen. Kalau belum pernah ke Warung Apung, kamu ndeso!

Selain ada warung apung, di Rowo Jombor ini juga banyak sekali orang-orang yang nongkrong di pinggir waduknya, bukan karena dia nggak kuat makan di Warung Apung, tapi karena mereka adalah orang-orang yang memiliki aliran garis keras mantap mania mancing!.

Kalau masih penasaran dengan Rowo Jombor mending langsung datang saja, soalnya susah dijelasin dengan kata-kata.

Nah, kebetulan lagi tadi pas bawa kamera, akhirnya saya nyari spot buat cangkrukan (nongkrong) sendirian. Tapi tenang, meski saya sendiri saya tetap ditemani dengan bapak-bapak dan mas-mas yang punya haluan garis keras tadi. Jadi kalau kamu mau cangkrukan di sini, nggak bakal kesepian.

Faktanya saya tadi sempat jagongan dengan seorang bapak yang lagi mancing. Lupa mau tanya namanya siapa, tapi dari asalnya dia orang Wedi. Wedi itu nama daerah gaess, bukan Wedi (Takut), bukan.

Sebenarnya obrolan tadi yang memulai si bapak, karena saya lagi asik jepret-jepret.

Si bapak tiba-tiba nyeletuk, "Kok nggak di pantai wae mas, nyari sunset."

Batin saya bapak ini ngerti aja kalau ada anak muda yang bawa kamera di sore hari pasti nyari sunset.

"Mboten pak, wong niki wau namung mampir, hehehe," tak jawab gitu. Faktanya ya cuma mampir je.

Si bapak langsung merespon dengan cepat, "Sebenere Klaten ki potensi wisatane akeh (banyak) mas, tapi yo do ra terawat."

Jleb, ternyata bapak yang punya usaha konveksi ini perhatian juga sama Klaten khususnya soal Wisatanya.

Beliau juga menjelaskan lagi masalah 'tidak terawat' yang dimaksudnya. Mulai dari tidak ada perhatian dari pemerintah hingga adanya pungli-pungli di tempat wisata. Beliau mencontohkannya di daerah Deles, bahwasannya kalau di Deles itu banyak digunakan anak-anak muda untuk pacaran, dan mereka biasanya diminta pungutan sama warga sekitar.

Saya jadi mikir, apakah sekarang juga masih tindakan seperti itu? Setahu saya itu dulu sih. Tapi ya sudah saya tidak mau memusingkan, lha wong saya nggak pernah pacaran ke Deles. Maklum masih lajang. #ehem #kodekeras.

Salah satu yang membuat saya semakin percaya kalau Bapak ini perhatian sama wisata klaten adalah saat beliau bilang ke sana untuk nyoba ke Bukit Cinta Watu Prau.

Bukit Cinta ini lagi ngehitz di kalangan warga Klaten dan sekitarnya. Letaknya di Gunung Gajahan, Bayat, Klaten. Besoklah nek pas selo tak nulis soal ini, soalnya saya belum ke sini. Padahal lumayan deket sama rumah. Duh pemuda macam apa saya ini!

Ingin rasanya ngobrol lebih lama dengan bapak tadi, tapi karena beliau sudah diajak anaknya pulang, alhasil obrolan kami sudahi.

Dari obrolan singkat ini tadi, saya mendapatkan beberapa pesan tersirat yang tidak penting hingga yang menjadi keresahan saya selama ini.

Yang tidak penting adalah kalau bapak tadi ternyata ke Rowo Jombor bukan karena niat untuk mancing, tapi cuma untuk mlipir dari rumah karena tetangganya ada yang punya gawe. Jebuleeee.....

Tapi dari situ saya tahu bahwa Rowo Jombor memang tempat yang cocok untuk melepas penat. Saya sendiri kalau lagi suntuk juga sering ke sini sendirian, menikmati angin sepoi-sepoi, sembari belajar mengambil gambar. *waduh tempat persembunyianku ketahuan ki

Lalu pesan penting dan yang jadi keresahan juga adalah soal wisata klaten. Sejujurnya saya bukanlah seseorang yang paham betul soal dunia kepariwisataan. Tetapi saya punya pemikiran yang sama dengan bapak tadi, yakni Klaten itu punya potensi, khususnya potensi wisata. Namun, masalah perawatan dan pengelolaan itu masih menjadi PR besar.

Saya jadi semakin yakin bahwa saya harus mengadakan sesuatu untuk wisata klaten, meskipun itu hanya kegiatan kecil. Dan ini juga berhubungan dengan Blogger Klaten.

Jadi beberapa waktu yang lalu, saya itu punya keinginan untuk mengadakan sesuatu untuk wisata klaten dengan blogger klaten. Karena menurut saya dua elemen ini merupakan potensi yang luar biasa jika bisa dimanfaat untuk hal-hal baik, khusus untuk Klaten.

Wisata klaten itu banyak tapi belum sepenuhnya dikenal orang, begitu juga blogger klaten yang jumlahnya sebenarnya banyak tapi masih pada malu-malu untuk tampil. Padahal di luar sana blogger sudah banyak digandeng pihak-pihak pemerintah dan non pemerintah sebagai partner marketing & branding. Minimal keberadaan blogger klaten harus dikenal dulu di rumahnya, Klaten.

Dan akhirnya tadi waktu kumpul, saya dibantu Mbak Elzha sempat menyenggol ke temen-temen masalah kegiatan yang ingin dilakukan ini. Kegiatannya apa, belum bisa saya tuliskan di sini. Besok saja kalau sudah fix.

Blogger Klaten
Tenang, meskipun wajahnya pada serius, tapi blogger klaten kalem-kalem kok.
Tapi intinya itu tadi, bagaimana agar keberadaan blogger klaten bisa mengangkat potensi-potensi yang ada di Klaten. Tidak hanya soal wisatanya saja, tapi juga hal-hal lain yang layak untuk dipublikasikan.

Dengan seperti itu harapannya nanti akan muncul persepsi-persepsi positif untuk spot-spot wisata di Klaten. Coba ingat kata bapak tadi yang saya temui di Rowo Jombor, beliau memiliki persepsi buruk untuk wisata klaten. Tentu ini tidak baik jika dibiarkan begitu saja.

Untuk itu semoga kegiatan nanti mendapatkan dukungan dari banyak pihak, khususnya dari blogger yang notabene punya media untuk mempublikasikan hal-hal positif yang ada disekitarnya.

Waduh, ternyata tulisan saya sudah panjang ya. :D Maklum kalau curhat jadinya malah kebablasan. Semoga kalian tidak sepaneng. :D Biar tidak sepaneng, ini saya kasih oleh-oleh dari sejak sore tadi. Tidak seberapa, tapi jangan dibully, masih belajar. >_<

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Follow This Blog!