28 July 2017

Festival HIK Klaten Tidak Mencerminkan Citra 'HIK' Itu Sendiri

DISCLAIMER : Tulisan ini mengandung curhat pribadi dan kritikan bagi seluruh pihak, baik Pemerintah Kabupetan Klaten sebagai penyelenggara maupun masyarakat Klaten sebagai penikmat acara. Jadi, mohon disetel kendo.

Festival HIK Klaten

Saya bersyukur, Klaten masih punya event-event yang konon katanya ingin melestarikan potensi yang ada di Klaten. Salah satunya adalah Festival Wedangan/HIK yang diselenggarakan Kamis, 27 Juli 2017 mulai pukul 18.00 - 22.00 WIB di sepanjang Jl. Pemuda (Depan RSPD sampai depan Rumah Dinas Bupati).

Ini merupakan event tahunan dan sudah dua kali ini dilaksanakan (kalau tidak salah). Dan memang acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Klaten yang ke-213 di tahun 2017.

Secara kepanitian, Festival HIK diselenggarakan oleh Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Klaten. Ya wajar, karena HIK sendiri memang ada kaitannya dengan dinas ini.

Secara umum, saya sebagai coklat (cowo klaten) sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Pemerintah Kab. Klaten yang telah menyelenggarakan acara ini. Apalagi melibatkan pedagang-pedagang HIK di area Klaten yang saya belum tahu pasti ada berapa angkringan yang ada di acara tersebut.

Namun yang pasti menurut informasi yang saya peroleh, per angkringan mendapatkan subsidi dari pemerintah yang diambilkan dari APBD yakni sebesar Rp 750 ribu per angkringan. Jumlah angka yang cukup besar untuk sebuah angkringan. Tapi ya tidak tahu juga, apakah para pedagang yang ikut festival ini benar-benar menyediakan dagangannya dengan nominal Rp 750 ribu atau tidak. Itu bukan urusan saya.

Nah kalau kita berbicara HIK/Wedangan/Angkringan, sudah barang pasti di situ merupakan tempat yang nyamleng buat nge-gibah, rasan-rasan lan udud'an. Produk-produk khas Angkringan, seperti wedhang jahe, teh jahe, susu jahe, lan sak piturute, membuat penikmatnya betah berlama-lama di Angkringan. Saking betahnya, kadang lupa sama yang di rumah, yang sudah beristri pun kadang lupa kalau istrinya belum dijamah.

Saya rasa kalau yang sudah pernah ngangkring, akan tahu esensinya ngangkring. Meski ada orang baru di lingkar angkringan itu, tapi mereka bisa menyatu. Saling urun rembug hal-hal baru tanpa harus grusa-grusu.

Ojo Ndeso


Kembali ke Festival HIK Klaten ini, saya cukup kaget. Kalau kata orang jaman sekarang itu speechless. Tidak bisa berkata-kata, antara nggumun karo ngelus dodo.

Angkringan
Belum ada jam 19.00 WIB, beberapa angkringan sudah kukut.
Acara yang memang dibuka mulai pukul 18.00 WIB itu, sudah ludes sekitar pukul 18.30 WIB, ya anggap saja pukul 19.00 WIB lah biar agak lama. Dari sini saja saya heran, lhoh ini katanya Festival HIK/Wedangan, lha kok cepetmen!. Lha biasane nek di HIK itu bisa berjam-jam e. Biasane akeh ngomongo katimbang nyruput wedhang jahene. Malah kadang nganti lali nek wedhang jahene wes adem.

Lha iki????? Adoh soko esensi Wedangan/HIK.

Yang membuat ngelus dodo lagi adalah nafsu birahi masyarakat melihat HIK itu sendiri. Ha sak jane wong Klaten ki opo do urung tahu nang angkringan? Kok delok angkringan ngono we langsung digruduk.

Saya bukan mau menyalahkan masyarakat. Tapi mbok yao agak tertib. Bener semua makanan yang dihidangkan itu gratis, tapi apakah dengan kegratisan itu membuat kegragasan meningkat? Opo bener wong Klaten ora kuat ngangkring? Kan tidak...

Bahkan pasca acara saya coba baca-baca komen di Instagram, salah satunya postingan dari akun @KabarKlaten menyebutkan acara yang sudah digelar dua kali ini tidak ada perubahan sama sekali. Masyarakat pada rayahan, dan yang bikin kesal adalah sampah bertebaran di mana-mana.

Jelas di sini masyarakat perlu diberikan edukasi. Bukan sekedar untuk menyuruh datang ke sebuah event, tetapi bagaimana supaya masyarakat khususnya warga Klaten itu sendiri bisa menikmati acaranya sendiri. Ini itu kan acara buat masyarakat, buat kita-kita, jadi ya kita harus menikmatinya dengan cara yang sehat.

Di postingan itu juga ada komentar dari salah satu warga Klaten dengan akun @tommy.np, dia berkomentar, "Mau bakule angkringan ngarep toko laris ibu-ibu, wes do rayahan ra aturan, grobake meh sempal, hape ne ilang dicopet. Mesak ke tenan min, :'("

Festival HIK Klaten Rusuh


Nah, nek udah kayak gitu siapa coba yang mau tanggung jawab?
Haaayy, Goodnight warga klaten:33 Asyiiikk yaaa kalau kota kita ngadain acara-acara.. Tapi yaa jangan overover yaaa, jangan ngrasa soksokkan atau apalah yang kalian rasakan yang kalian ingin tunjukkan ke banyak orang. Are you human? Kalau kalian bener-bener manusia pasti punya rasa kemanusiaan dong yaaa kesesama manusia disekitar kita, belajar menghargai sesama manusia, belajar tertib, iyaaa memang HIK gratis tapi yaa setidaknya kalian tidak bikin rusuh.. Boleh deket ambil semaunya seperlunya aja soalnya bukan cuman buat kamu aja. Benerran miriiis bgt liat suasana ini, niatnya mau mengabadikan moment kedua ini karna taun lalu aku ketinggalan acara ini. Yang disekitar angkringan itu entah tempat siapa, mereka rusuh banget gerobak angkringan sampai patah sebelah, semua minumman tumpah.Alhasil, yang punya gerobak marah dan menyuruh semua pergi dan apa yang terjadi? Yang berada di sekitar angkringan malah melemparri bapak itu makanan yang sudah mereka ambil dari angkringan itu. Gilaaaaaakkkan?! Astagfirullaaaahh.. Apa yang mereka fikir cobaaaakk? #FestivalHIK #kabarklaten #klatenmiris @kabarklaten
A post shared by Azura Nuraliza (@azuranuraliza) on


Solusinya Gimana Bos? Ojo nyalah-nyalahke wae isohe!

Iki udu nyalahke bos, iki kritik. Nek gak dikritik, suk tahun ngarep yo muk ngene-ngene terus wae.

Solusinya menurut saya diawali dari penyelenggara itu sendiri. Penyelenggara yang punya wewenang, yang punya konsep dan bisa merubah situasi kondisi acara. Saya melihat waktu acara berlangsung, pihak penyelenggara tidak memiliki konsep yang baik. Nek punya konsep baik, nggak mungkin ada rayahan sego kucing, wedhang jahe, hape ono sing ilang, dll.

Acara Festival HIK ini kalau dari kacamata saya pribadi konsepnya cuma rayahan panganan, acara sambutan orang-orang besar, dangdutan, terus bar. Yang jadi inti malah acara sambutan sama dangdutan. Acara HIK malah nggak digagas matang-matang. Seharusnya angkringannya bisa bertahan sampai jam 22.00 WIB sesuai jadwal, tapi faktanya tidak. Bukan sekedar acara foto-foto pembukaan oleh orang-orang besar yang pada akhirnya dianggap masyarakat sebagai 'pencitraan'.

Dangdutan Festival HIK Klaten


Nek menurut saya, seharusnya pihak penyelenggara membuat konsep yang benar-benar menjadikan 'ruh' festival ini ada. Ini kan salah satu tujuannya untuk mengangkat HIK itu sendiri, jadi ya ada baiknya jika dalam penyelenggaraan itu ditata. Bukan sekedar menata angkringan satu per satu di sudut jalan, tetapi menata bagaimana acara festival ini bisa berlangsung dengan lancar, masyarakat bisa menikmati wedhangan, nyruput wedhang jahe, muluk sego kucing kanti nyamleng.

Jadi kalau mau buat acara yang melibatkan orang banyak itu ya harus ditata. Kalau sekedar mikirin apa yang ingin ditampilkan saja tanpa memperhitungkan siapa dan berapa yang akan datang, ya pada akhirnya seperti itu kejadiannya. Seharusnya sih penyelenggara sudah tahu soal ini. Tinggal mau tidak menata ke arah yang lebih baik.

Festival HIK Klaten
Antusias masyarakat sangat tinggi, konsep acara harus dimatangkan lagi
Misalnya saja dengan membuat area bebas pengunjung. Di mana area itu hanya berisi angkringan-angkringan yang digratiskan tadi. Nanti masyarakat untuk mendapatkan makanan gratis dari angkringan melalui kupon yang telah diberikan sebelumnya. Dalam memperoleh kupon itu pun bisa diadakan acara-acara printilannya. Intinya bagaimana memanajemen pengunjung supaya bisa tertib dan membuat nyaman aman bagi penjual wedhangannya.

Terus misal, di acara itu juga bisa diadakan semacam kuis-kuis atau apalah, yang intinya melibatkan masyarakat. Pemenangnya bisa mendapatkan jatah kursi ngangkring di area bebas pengunjung itu. Sehingga masyarakat pun bisa menikmati esensi ngangkring itu sendiri.

Karena kalau perubahan cuma diberikan ke masyarakat, itu sulit. Masyarakat itu kalau cuma disuruh besok harus tertib, jangan keroyokan pas ngambil, lantas pihak penyelenggara masih saja membuat konsep yang sama, ya hasilnya sama saja. Bola bali rayahan nganti ra kenduman.

Intinya seperti itu kritik yang ingin saya berikan. Tulisan ini saya buat atas dasar kepedulian saya dengan Klaten. Jujur saya senang kalau Klaten punya banyak acara-acara, apalagi yang mengangkat potensi lokalnya. Tapi mbok yao bapak-bapak ibu-ibu penyelenggara menatanya supaya 'ruh' dari acara itu benar-benar ada.

Akan lebih baik jika setiap acara-acara seperti ini melibatkan juga masyarakat dan anak muda. Sehingga bisa saling urun rembug, bagaimana baik dan buruknya. Sehingga sebuah acara yang mengangkat nama daerah bisa mencerminkan hal positif daerah itu.

Itu saja yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Harapan saya cuma satu, semoga tahun depan ada perubahan. Minimal tidak ada lagi rayahan panganan dan tolong dijaga kebersihan. Acara semacam ini bukan sekedar 'sing penting gayeng, katimbang ra ono acara'. Kuwi jenenge ngawur lur.... Matur suwun.

08 July 2017

Persepsi Wisata Klaten & Kopdar Blogger Klaten

Wisata Klaten

Sore tadi (8/7) selepas dari Bayat, rencana langsung mau ke Linchak Coffee buat ngumpul bareng blogger-blogger Klaten. Karena jam masih menunjukkan pukul 15.00 WIB, akhirnya saya mlipir dulu ke Rowo Jombor. Kebetulan pulangnya memang lewat rowo.

Buat yang belum tahu Rowo Jombor, tempat ini merupakan waduk yang letaknya di Dukuh Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kalau dari pusat kota sih sekitar 8 KM. Kurang lebih lho ya, lha wong saya nggak pernah meterin jalan.

Mungkin orang-orang lebih mengenal Waduk Rowo Jombor dengan nama Warung Apung. Ya karena di waduk ini ada warung apungnya dan itu yang bikin hitz di kalangan warga sipil dan non sipil termasuk netizen. Kalau belum pernah ke Warung Apung, kamu ndeso!

Selain ada warung apung, di Rowo Jombor ini juga banyak sekali orang-orang yang nongkrong di pinggir waduknya, bukan karena dia nggak kuat makan di Warung Apung, tapi karena mereka adalah orang-orang yang memiliki aliran garis keras mantap mania mancing!.

Kalau masih penasaran dengan Rowo Jombor mending langsung datang saja, soalnya susah dijelasin dengan kata-kata.

Nah, kebetulan lagi tadi pas bawa kamera, akhirnya saya nyari spot buat cangkrukan (nongkrong) sendirian. Tapi tenang, meski saya sendiri saya tetap ditemani dengan bapak-bapak dan mas-mas yang punya haluan garis keras tadi. Jadi kalau kamu mau cangkrukan di sini, nggak bakal kesepian.

Faktanya saya tadi sempat jagongan dengan seorang bapak yang lagi mancing. Lupa mau tanya namanya siapa, tapi dari asalnya dia orang Wedi. Wedi itu nama daerah gaess, bukan Wedi (Takut), bukan.

Sebenarnya obrolan tadi yang memulai si bapak, karena saya lagi asik jepret-jepret.

Si bapak tiba-tiba nyeletuk, "Kok nggak di pantai wae mas, nyari sunset."

Batin saya bapak ini ngerti aja kalau ada anak muda yang bawa kamera di sore hari pasti nyari sunset.

"Mboten pak, wong niki wau namung mampir, hehehe," tak jawab gitu. Faktanya ya cuma mampir je.

Si bapak langsung merespon dengan cepat, "Sebenere Klaten ki potensi wisatane akeh (banyak) mas, tapi yo do ra terawat."

Jleb, ternyata bapak yang punya usaha konveksi ini perhatian juga sama Klaten khususnya soal Wisatanya.

Beliau juga menjelaskan lagi masalah 'tidak terawat' yang dimaksudnya. Mulai dari tidak ada perhatian dari pemerintah hingga adanya pungli-pungli di tempat wisata. Beliau mencontohkannya di daerah Deles, bahwasannya kalau di Deles itu banyak digunakan anak-anak muda untuk pacaran, dan mereka biasanya diminta pungutan sama warga sekitar.

Saya jadi mikir, apakah sekarang juga masih tindakan seperti itu? Setahu saya itu dulu sih. Tapi ya sudah saya tidak mau memusingkan, lha wong saya nggak pernah pacaran ke Deles. Maklum masih lajang. #ehem #kodekeras.

Salah satu yang membuat saya semakin percaya kalau Bapak ini perhatian sama wisata klaten adalah saat beliau bilang ke sana untuk nyoba ke Bukit Cinta Watu Prau.

Bukit Cinta ini lagi ngehitz di kalangan warga Klaten dan sekitarnya. Letaknya di Gunung Gajahan, Bayat, Klaten. Besoklah nek pas selo tak nulis soal ini, soalnya saya belum ke sini. Padahal lumayan deket sama rumah. Duh pemuda macam apa saya ini!

Ingin rasanya ngobrol lebih lama dengan bapak tadi, tapi karena beliau sudah diajak anaknya pulang, alhasil obrolan kami sudahi.

Dari obrolan singkat ini tadi, saya mendapatkan beberapa pesan tersirat yang tidak penting hingga yang menjadi keresahan saya selama ini.

Yang tidak penting adalah kalau bapak tadi ternyata ke Rowo Jombor bukan karena niat untuk mancing, tapi cuma untuk mlipir dari rumah karena tetangganya ada yang punya gawe. Jebuleeee.....

Tapi dari situ saya tahu bahwa Rowo Jombor memang tempat yang cocok untuk melepas penat. Saya sendiri kalau lagi suntuk juga sering ke sini sendirian, menikmati angin sepoi-sepoi, sembari belajar mengambil gambar. *waduh tempat persembunyianku ketahuan ki

Lalu pesan penting dan yang jadi keresahan juga adalah soal wisata klaten. Sejujurnya saya bukanlah seseorang yang paham betul soal dunia kepariwisataan. Tetapi saya punya pemikiran yang sama dengan bapak tadi, yakni Klaten itu punya potensi, khususnya potensi wisata. Namun, masalah perawatan dan pengelolaan itu masih menjadi PR besar.

Saya jadi semakin yakin bahwa saya harus mengadakan sesuatu untuk wisata klaten, meskipun itu hanya kegiatan kecil. Dan ini juga berhubungan dengan Blogger Klaten.

Jadi beberapa waktu yang lalu, saya itu punya keinginan untuk mengadakan sesuatu untuk wisata klaten dengan blogger klaten. Karena menurut saya dua elemen ini merupakan potensi yang luar biasa jika bisa dimanfaat untuk hal-hal baik, khusus untuk Klaten.

Wisata klaten itu banyak tapi belum sepenuhnya dikenal orang, begitu juga blogger klaten yang jumlahnya sebenarnya banyak tapi masih pada malu-malu untuk tampil. Padahal di luar sana blogger sudah banyak digandeng pihak-pihak pemerintah dan non pemerintah sebagai partner marketing & branding. Minimal keberadaan blogger klaten harus dikenal dulu di rumahnya, Klaten.

Dan akhirnya tadi waktu kumpul, saya dibantu Mbak Elzha sempat menyenggol ke temen-temen masalah kegiatan yang ingin dilakukan ini. Kegiatannya apa, belum bisa saya tuliskan di sini. Besok saja kalau sudah fix.

Blogger Klaten
Tenang, meskipun wajahnya pada serius, tapi blogger klaten kalem-kalem kok.
Tapi intinya itu tadi, bagaimana agar keberadaan blogger klaten bisa mengangkat potensi-potensi yang ada di Klaten. Tidak hanya soal wisatanya saja, tapi juga hal-hal lain yang layak untuk dipublikasikan.

Dengan seperti itu harapannya nanti akan muncul persepsi-persepsi positif untuk spot-spot wisata di Klaten. Coba ingat kata bapak tadi yang saya temui di Rowo Jombor, beliau memiliki persepsi buruk untuk wisata klaten. Tentu ini tidak baik jika dibiarkan begitu saja.

Untuk itu semoga kegiatan nanti mendapatkan dukungan dari banyak pihak, khususnya dari blogger yang notabene punya media untuk mempublikasikan hal-hal positif yang ada disekitarnya.

Waduh, ternyata tulisan saya sudah panjang ya. :D Maklum kalau curhat jadinya malah kebablasan. Semoga kalian tidak sepaneng. :D Biar tidak sepaneng, ini saya kasih oleh-oleh dari sejak sore tadi. Tidak seberapa, tapi jangan dibully, masih belajar. >_<

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

Rowo Jombor Klaten

25 April 2017

Rate Card Blogger, Apakah Sekedar Formalitas Belaka?

Disclaimer : Tulisan ini hanya berdasarkan opini dan apa yang penulis merasa ketahui. Segala informasi yang pembaca temui bisa saja benar bisa saja salah.

Rate Card Blogger

Saya cukup senang karena keberadaan blogger di muka bumi ini dihargai dan diapresiasi. Bentuknya pun macam-macam, ada yang mengadakan sebuah penghargaan ada pula yang mengajak blogger turut andil dalam berbagai kerjasama online maupun offline.

Uhh, kalau udah ngomongin soal 'kerjasama', rasanya menjadi blogger itu sesuatu yang wah. Iye kan...

Kerjasama online yang sekarang ini banyak didapatkan blogger itu kalau nggak sponsored post ya content placement. Bahkan saking demennya dapat kerjasama seperti ini, blogger pun asal ambil tawaran yang masuk ke email-nya. Nggak peduli berapa rate yang diberikan, pokoknya ambil. :))

Wangunkah?

Ya kalau ditanya pantas atau tidak pantas, itu kembali ke masing-masing blogger. Sebenarnya kurang etis kalau ngomongin masalah rate. Soalnya ini sudah masuk ke hak prerogatif blogger. Tapi tak ada salahnya kan ngomongin rate? Apalagi juga pernah ada kasus kalau blogger nggak nerima-nerima pencairan dananya. Padahal jauh-jauh hari sudah kredit panci. Kan susah kalau kayak gitu. hehehe

Apa itu Rate Card ?

Saya rasa sudah banyak blogger papan atas yang ngulik soal rate card ini. Karena dulu saya tau rate card itu juga baca dari sebuah blog (blogger luar negeri). Waktu itu saya pernah ditanya oleh calon klien, dia minta rate card blog saya.

Lhah, saya bingung, apa itu rate card. Tak kira rate card itu semacam kartu anggota menjadi blogger yang disitu ada informasi si blogger masuk dalam kategori apa. wkwwkwk

Tapi setelah browsing, akhirnya tahu juga rate card itu apa. Dari situ saya mulai paham kalau tiap blogger itu punya 'harga' nya sendiri-sendiri.

Nah, sering ada pengalaman dan beberapa kali ditanya seorang temen, dia blogger, dan tanya berapa harga yang pas untuk sebuah sponsored post / article placement di blognya. Soalnya dia baru saja dihubungi oleh pihak agency/brand yang ingin kerjasama seperti itu di blognya.

Lha saya juga bingung mau ngasih tau harga yang cocook untuk dia. Soalnya nggak mungkin saya kasih informasi harga yang biasa untuk blog saya ke blog dia. Rate saya kan mahal. #eh hahaha becanda kok :p

Maksudnya gini, saya nggak mungkin kasih harga sponsored post yang biasa saya dapatkan lalu saya infokan ke dia, karena karakteristik blog saya dan dia itu beda. Tiap blogger itu punya blog dengan karakteristik dan statistik yang berbeda-beda. Itulah salah satu alasan mengapa rate tiap blogger tidak bisa sama.

Apalagi kerjasama seperti ini adalah sebuah jasa. Dimana harga pekerjaan bidang jasa itu tidak ada patokan pastinya (harga pasaran). Jadi jangan tanya juga berapa patokan harga sponsored post ke blogger lain. Misalnya saja harga sebuah jasa foto, mbok sampeyan tanya ke fotografer (pro) sejagad ini, mereka nggak bisa kasih tau langsung segini harga sebuah foto itu. Nggak bisa. Ya soalnya ada banyak sekali kriteria-kriterianya sebelum bisa menentukan harga.

Untuk itu kita sebagai blogger juga butuh rate card.

Menurut saya, Rate card ini adalah informasi tentang detail blog kita yang didalamnya ada informasi deskripsi blog kita, statistik pengunjung hingga media sosial yang dipunya dan tentunya harga patokan bagi kita (masing-masing blogger) untuk acuan ketika mendapatkan tawaran kerjasama seperti itu. Tetapi yang perlu diingat,harga rate card ini bukanlah harga pasti. Rate card ini harga standar untuk kita. Dan biasanya sih jarang disebutkan di dokumen rate card. Harga ini biasanya cuma ada dibenak kita dan nanti digunakan untuk keperluan negosiasi.

Misalnya saja travel blogger a punya rate card sebesar Rp 800.000,- untuk satu artikel bersponsor. Harga ini bisa saja lebih tinggi, namun agak sulit untuk turun. Ya soalnya harga itu adalah harga standart untuk sebuah sponsored post.

Akan bisa naik harganya apabila ternyata klien adalah dari perusahaan yang besar dan sudah terkenal. Bisa juga jika pihak blogger memberikan services yang lain. Misalnya akan mengiklankan sponsored post ke media sosial agar dapat mendrive traffic lebih banyak lagi.

Bagaimana menentukan rate card untuk blogger ?

Menentukan Rate Card Blogger
Saya sendiri juga belum tahu bagaimana menentukan rate card yang sesuai untuk blog kita. Karena ya belum ada rumus pastinya. Eh tapi saya pernah baca artikelnya Mas Harris Maul kalau dia punya rumus menentukan rate card untuk sebuah sponsored post. Coba kamu nanti search di Google "harrismaul rate card".

Tetapi saya punya pandangan tersendiri tentang bagaimana menentukan rate card bagi blogger ini.

Menurut saya ada beberapa kriterianya sebelum kita bisa menentukan nilai atau harga yang pas untuk kita.

Visitors & Pageviews

Kriteria pertama bisa dilihat dari demografi visitors dan pageviews blog kita. Cakupannya mulai jumlahnya, lalu umurnya, jenis kelamin, minat, dll. Untuk itu sangat perlu kita untuk memasang sebuah analytic tool yang lengkap seperti misalnya Google Analytics.

Bacalah : Wow, Inikah Pengaruh Besar Google Analytics Bagi Blog Kita? (nggak bisa diklik? lha saya belum buat tulisannya.)

Dari situ kita bisa membuat report mengenai blog kita. Jadi fungsi dari memasang Google Analytics itu bukan sekedar untuk melihat berapa banyak kunjungan blog kita per harinya. Tetapi juga untuk mengetahui bagaimana blog kita dimata pengunjung dan untuk menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk perbaikan blog kita agar lebih ramah pengunjung lagi.

Jadi jumlah pengunjung dan tayangan laman ini sangat berpengaruh untuk menentukan nilai rate card blog kita.

Blogger dengan jumlah pembaca per hari 5.000 akan memiliki rate card lebih tinggi dibanding blogger dengan jumlah pembaca per hari hanya 1.000.

Influencer

Tetapi, jumlah pengunjung itu tidak bisa menjadi jaminan utama untuk mendapatkan rate yang lebih tinggi. Faktanya memang begitu. Ada banyak blogger yang pengunjungnya sedikit dari saya, tetapi dapat rate yang menggila.

Apa penyebabnya?

Karena dia lebih terkenal dibanding saya. Ya, itu dia masalahnya. Saya yang notabene hanya remahan rengginan yang terbuang menjadi blogger tidak bisa mengangkat rate yang lebih tinggi.

Blogger yang terkenal entah di dunia media sosial atau bahkan offline. Jelas akan lebih mudah menaikkan rate. Karena dia terkenal dan apa yang ia katakan, ucapkan, tuliskan, ghibahkan itu dapat mempengaruhi audience dan followers nya.

Sekarang bayangkan saja, rate card antara saya dan Agus Mulyadi kira-kira besaran mana? Nggak usah pakai mikir panjang sudah jelaskan. Dia update status satu kata saja yang komen ribuan umat. Lha saya, nulis puisi kadang kata-kata mutiara, yang komen cuma satu tok til. Kalau pun ada yang komen pasti ya cuma itu-itu saja orangnya. Itupun karena dia orangnya lagi selow.

Itulah salah satu contohnya dimana kriteria "influencer" itu sangat menentukan rate card.

Kalau ngomongin masalah influencer ini tentu ada kaitannya dengan personal branding.

Baca juga : Personal Branding Mampu Meningkat Earning (nggak bisa diklik lagi? Maap saya belum bikin tulisannya.)

Technical

Lalu kriteria lain datang juga sisi teknis. Menurut saya, ini jarang banget dilihat bagi para blogger yang ingin menentukan rate untuk sponsored post. Sisi teknis ini meliputi desain blog, kondisi SEO blog, penempatan tulisan (sticky atau tidak), bebas dari iklan (adsense, iklan lain), waktu, riset tulisan, prestasi yang pernah didapatkan blogger, dll.

Saya pernah punya pengalaman dimana artikel bersponsor yang saya tulis itu sampai sekarang nangkring di page one Google. Padahal saya tidak serius mengoptimasinya. Gilee, pasti ada yang ghibah, "Nggak serius aja bisa nangkring, gimana kalau serius?"

Pertimbangan itulah yang menyadarkan saya untuk lebih giat lagi menegokan harga sebuah sponsored post yang notabene artikel itu akan tayang selamanya dan di sana ada link ke website klien. Jadi untuk kerjasama dalam durasi seumur hidup ini apakah rate cuma dihargai sebesar kacang godhog yang dijual di wayangan? Kan tidak.

Apalagi kalau memang kita niat untuk mengoptimalkan sponsored post itu, beuh rate bisa digodhog lebih matang lagi sematang kacang godhog di wayangan.

Blogger Rate Card
sample sponsored post rate guide / source : cocochicblog.co.uk


Rate Card
Sekedar Formalitas?

Menarik memang, ketika kita sebagai blogger memiliki sebuah rate card yang ciamik entah itu mau dibuat dalam format pdf ataupun sebuah halaman di blog. Tetapi yang menjadi masalah hingga saat ini adalah semua itu seperti formalitas saja.

Apa yang telah kita tulis dan informasikan di rate card nampaknya tidak ada gunanya ketika pihak brand apalagi agency tidak menjadi acuan serius pihak mereka pemberi dana untuk menggelontorkan dananya sesuai harapan kita.

Dan pada akhirnya pilihannya ada dua, membatalkan atau mengambil rate yang sudah ditawarkan pihak mereka.

Lalu apa kontribusinya rate card yang telah kita buat?

Itulah yang perlu menjadi bahan edukasi untuk kita semua, baik blogger, agency hingga brand.

Saya tidak bermaksud untuk membandingkan klien dalam negeri dengan luar, tetapi berdasarkan pengalaman, klien dari luar negeri lebih menghargai blogger. Pernah ada kejadian unik, waktu itu saja dihubungi oleh sebuah agency dari dalam negeri. Mereka menawarkan kerjasama sponsored post untuk sebuah produk dari perusahaan luar.

Ketika saya menawarkan dengan rate yang sesuai dengan keinginan saya, ternyata tidak disetujui. Mereka menganggap masih terlalu tinggi. Akhirnya saya putuskan untuk menolak. Ya memang produk yang ingin dipromosikan adalah brand besar. Tak berselang lama, saya dihubungi agency juga tetapi dari luar negeri. Menariknya, mereka juga menawarkan untuk produk yang sama dengan agency yang saya batalkan itu.

Dan ketika saya meminta rate yang sama seperti saat saya tawarkan ke agency pertama, ternyata mereka langsung menyetujuinya. Masalah administrasi pun sangat mudah. Ketika artikel tayang, masalah administrasi langsung dipenuhi tanpa menunggu beberapa minggu lagi.

Menarik kan. Itulah yang sekarang banyak ditemui.

Jadi, menurut saya keberadaan rate card di dunia perbloggingan dalam negeri ini belum sepenuhnya bisa diterapkan. Masih banyak pihak yang belum memahami apa itu rate card. Lagi pula adanya sistem 'asal terima yang penting rekening berkembang' itu juga yang menjadi pengaruhnya.

Ini bukan masalah menolak rejeki atau yang lainnya. Tetapi jika sudah berbicara masalah kerjasama bisnis, ya untung rugi harus diperhatikan lagi. Karena kita (blogger) sekarang bukan sekedar menjadi orang yang hobi nulis di blog lagi, tetapi kita juga sudah menjadi medium bagi perusahaan untuk mendekatkan diri lagi ke target pasarnya.

***
Sekian. Tulisan di atas hanyalah sebuah opini pribadi, jangan dipercayai apalagi diambil hati.

Follow This Blog!